BERITA RISDA KABUPATEN LAMONGAN

Dokumentasi asli kegiatan edukasi dan pembekalan gizi yang digunakan pada publikasi LESTARI di laman Berita RISDA Kabupaten Lamongan. Sumber: RISDA Kabupaten Lamongan.
Lamongan – Puskesmas Laren Kabupaten Lamongan mengembangkan inovasi LESTARI (Laren Sehat Tangguh Menuju Generasi Bebas Stunting) sebagai upaya terpadu untuk memperkuat pencegahan dan penanganan stunting di Kecamatan Laren. Program ini memadukan edukasi gizi, pemberdayaan keluarga, pemantauan tumbuh kembang balita, serta kolaborasi lintas sektor agar intervensi tidak berhenti pada pelayanan kesehatan semata. Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas menjadi fondasi utama karena pemenuhan gizi anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, dan dukungan lingkungan. Melalui LESTARI, pencegahan stunting diarahkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Pedoman teknis mencatat bahwa pada 2024 terdapat 96 balita atau sekitar 5,4 persen di Kecamatan Laren yang mengalami gizi kurang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang lebih intensif untuk mencegah masalah gizi berkembang menjadi stunting. Stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga berisiko menghambat perkembangan kognitif dan kualitas hidup anak pada masa mendatang. Karena itu, LESTARI menempatkan deteksi dini, pemantauan rutin, dan perbaikan pola makan sebagai langkah penting sejak usia balita.
Salah satu fokus program adalah meningkatkan kapasitas kader kesehatan dan para ibu dalam mengelola gizi balita. Kader dibekali pengetahuan mengenai pemantauan berat dan tinggi badan, identifikasi tanda gizi kurang, serta penyampaian edukasi yang tepat kepada keluarga. Sementara itu, para ibu mendapatkan pendampingan mengenai makanan bergizi seimbang, pengolahan bahan pangan lokal, dan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak. Pendekatan kelompok belajar dan pendampingan rutin diharapkan membuat keluarga semakin mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kebutuhan gizi anak.
LESTARI juga mengembangkan sistem Pemberian Makanan Tambahan berbasis pemberdayaan masyarakat. Bahan pangan lokal seperti hasil kebun, ikan, maupun sumber protein lain dapat diolah menjadi makanan tambahan yang bergizi, terjangkau, dan sesuai kebutuhan balita. Kader serta kelompok ibu didorong untuk terlibat dalam pengolahan makanan sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam perbaikan gizi. Model ini sekaligus membuka peluang bagi kelompok usaha lokal untuk ikut mendukung penyediaan pangan sehat.
Kebaruan inovasi diperkuat melalui konsep Si LESTARI atau Sistem Informasi Layanan Gizi Terpadu yang digunakan untuk memantau status gizi balita secara lebih terstruktur. Data pertumbuhan anak menjadi dasar untuk menentukan sasaran prioritas dan jenis intervensi yang diperlukan. Program juga mengembangkan Kelas Gizi Keluarga yang tidak hanya menyasar ibu, tetapi melibatkan ayah dan anggota keluarga lain agar tanggung jawab pemenuhan gizi dibangun bersama. Pendekatan keluarga holistik tersebut membedakan LESTARI dari program yang hanya berfokus pada pemberian bantuan sesaat.
Kemitraan Desa Tangguh Stunting menjadi pilar lain dalam pelaksanaan program. Pemerintah desa, puskesmas, kader posyandu, kelompok masyarakat, dan pelaku usaha lokal didorong untuk bekerja sama melalui forum evaluasi dan tindak lanjut. Kelompok usaha masyarakat seperti budidaya ikan atau pengembangan bahan pangan lokal dapat dihubungkan dengan program gizi keluarga melalui penyediaan paket pangan sehat. Kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan gizi, tetapi juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat desa.
Target langsung program mencakup terbangunnya sistem pemantauan gizi digital yang terhubung dengan seluruh posyandu di Kecamatan Laren, pelaksanaan 12 sesi Kelas Gizi Keluarga setiap tahun, penyediaan 300 paket gizi bulanan melalui kemitraan dengan lima UMKM lokal, serta pelatihan 50 kader gizi. Dalam jangka menengah, LESTARI diarahkan untuk menurunkan prevalensi balita gizi kurang dari 5,4 persen menjadi di bawah 3 persen dalam dua tahun. Program juga menargetkan peningkatan pengetahuan gizi keluarga dan terbentuknya desa percontohan yang memiliki kemandirian pangan berbasis komunitas.
Publikasi RISDA Kabupaten Lamongan pada 16 Juli 2025 menggambarkan LESTARI sebagai upaya untuk mewujudkan generasi sehat melalui pelatihan kader, penyuluhan pola makan sehat bagi ibu balita, penyediaan PMT lokal yang tepat gizi, serta pengukuran status gizi secara berkala. Dokumentasi kegiatan menunjukkan adanya pembekalan kepada petugas dan masyarakat mengenai penyiapan makanan tambahan berbasis pangan lokal bagi kelompok berisiko. Dengan pendekatan edukasi, pemberdayaan, pemantauan, dan kolaborasi, LESTARI diharapkan mampu membentuk generasi Laren yang tumbuh optimal, tangguh, dan bebas stunting.