HEBAT WAY menghadirkan evaluasi matematika kelas I dengan teknologi Wayground dan pendekatan G.E.M.B.I.R.A. Sistem gamifikasi dirancang untuk mengurangi ketegangan saat tes, menjaga fokus siswa, serta memberi guru data hasil evaluasi secara real-time sehingga tindak lanjut pembelajaran dapat dilakukan lebih cepat dan terarah.

SD Negeri 8 Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, sekolah tempat inovasi HEBAT WAY dikembangkan. Foto: dokumentasi profil sekolah Annibuku.
EMPAT LAWANG — Evaluasi matematika untuk siswa kelas awal tidak selalu harus identik dengan lembar soal yang menegangkan. SD Negeri 8 Tebing Tinggi mengembangkan HEBAT WAY, Hadirkan Evaluasi Belajar Asik dengan Teknologi Wayground, untuk mengubah proses penilaian menjadi aktivitas digital yang lebih ramah bagi siswa kelas I. Dalam proposal inovasi, matematika dasar dinilai kerap terasa sulit dan kaku karena konsepnya abstrak, sedangkan anak kelas I masih membutuhkan pengalaman belajar yang konkret dan menarik. Wayground kemudian digunakan sebagai media gamifikasi yang menggabungkan soal dengan visual, tantangan, dan umpan balik langsung.
G.E.M.B.I.R.A Menghubungkan Dunia Nyata dan Digital
Inovasi ini dipadukan dengan alur pembelajaran G.E.M.B.I.R.A yang mencakup Gali dan Eksplorasi, Muat Konten, Buat Aktivitas, Ikuti Pemikiran Murid, Rayakan, dan Akhiri. Sebelum masuk ke permainan digital, siswa diajak mengeksplorasi benda nyata di sekitar kelas untuk membangun pemahaman awal. Guru selanjutnya memuat konsep dalam visual yang mudah dikenali, lalu memberi aktivitas evaluasi berbasis permainan. Saat siswa mengerjakan tantangan, guru mengikuti proses berpikir mereka dan memberikan pertanyaan pemantik alih-alih langsung menunjukkan jawaban.
Elemen “Rayakan” memberi ruang apresiasi terhadap usaha dan keberhasilan siswa, baik melalui efek visual pada aplikasi maupun respons positif di kelas. Tahap “Akhiri” digunakan guru untuk melakukan refleksi bersama berdasarkan data hasil evaluasi. Dengan alur ini, HEBAT WAY tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan nilai, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar. Data jawaban yang tersedia segera setelah aktivitas selesai membantu guru mengetahui soal yang banyak keliru dijawab dan konsep yang perlu diperkuat.
| “Evaluasi dirancang bukan sebagai momen yang menakutkan, melainkan sebagai petualangan belajar yang memberi umpan balik langsung.” |
Proposal HEBAT WAY menargetkan peningkatan pemahaman matematika dasar, pengurangan kecemasan saat evaluasi, serta peningkatan fokus dan rasa ingin tahu siswa. Platform berbasis awan membuat guru tidak perlu membangun aplikasi dari awal. Pengembangan cukup difokuskan pada bank soal kelas rendah, pemilihan template visual, dan penyesuaian penggunaan perangkat. Karena itu, instrumen evaluasi dapat disiapkan dan diuji dalam waktu relatif singkat dengan memanfaatkan sarana yang telah tersedia.
Ketuntasan Belajar Dilaporkan Meningkat
Dalam hasil yang dicantumkan pada proposal, suasana evaluasi berubah menjadi kegiatan bermain-belajar yang lebih santai dan siswa terlihat lebih antusias. Ketuntasan belajar klasikal pada materi matematika dasar dilaporkan meningkat dari sekitar 60 persen menjadi 85 persen. Guru juga memperoleh efisiensi waktu karena dashboard Wayground menyajikan nilai, analisis butir soal, dan indikasi miskonsepsi secara otomatis. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan bantuan yang lebih spesifik kepada siswa yang masih mengalami kesulitan.
Manfaat lain terletak pada perubahan cara pandang terhadap gawai di lingkungan pendidikan. Perangkat tidak hanya diposisikan sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat evaluasi yang interaktif dan terukur. Bagi sekolah, praktik ini menjadi portofolio digitalisasi pembelajaran yang dapat dibagikan dalam komunitas belajar. Bagi orang tua, hasil evaluasi yang lebih terstruktur dapat membantu melihat perkembangan anak secara lebih objektif.
HEBAT WAY menunjukkan bahwa evaluasi dapat didesain sebagai pengalaman belajar, terutama bagi siswa kelas awal yang membutuhkan suasana aman dan menyenangkan. Keberlanjutan inovasi akan bergantung pada kualitas bank soal, kesiapan perangkat dan koneksi, serta kemampuan guru menafsirkan data hasil asesmen. Dengan pengembangan yang konsisten, model seperti ini dapat memperkuat pembelajaran berpusat pada siswa tanpa menghilangkan fungsi utama evaluasi sebagai alat untuk mengetahui capaian dan kebutuhan belajar.
Sumber Bahan Berita
• Proposal Inovasi Daerah HEBAT WAY, SD Negeri 8 Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.
• Foto sekolah: Annibuku, profil SD Negeri 8 Tebing Tinggi.