CERIA RONCE Latih Motorik Halus Anak melalui Sedotan Warna-Warni

Cara Edukasi Ronce Interaktif memadukan kegiatan bermain, kreativitas, koordinasi mata dan tangan, serta penggunaan bahan sederhana untuk mendukung kesiapan belajar anak.

Anak-anak PAUD bersama guru di ruang kelas setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. CERIA RONCE menggunakan potongan sedotan berwarna, tali, dan kardus bekas untuk melatih motorik halus, konsentrasi, serta kreativitas anak. Foto: Dokumentasi Program CERIA RONCE

EMPAT LAWANG — Program CERIA RONCE menghadirkan pembelajaran kreatif bagi anak usia dini melalui kegiatan meronce sedotan. Permainan ini dirancang untuk menstimulasi otot jari, koordinasi mata dan tangan, konsentrasi, serta kreativitas menggunakan bahan yang sederhana dan mudah ditemukan.

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter, kreativitas, dan kemampuan dasar anak. Pada masa ini, perkembangan berlangsung sangat cepat sehingga pembelajaran perlu dirancang menarik dan sesuai dengan dunia anak. Bermain menjadi pendekatan utama agar anak dapat belajar tanpa merasa terbebani.

Salah satu kemampuan yang perlu distimulasi sejak dini adalah motorik halus. Kemampuan ini melibatkan otot-otot kecil pada jari dan tangan serta koordinasi mata dan tangan. Keterampilan tersebut menjadi dasar bagi aktivitas sehari-hari dan kesiapan akademik, termasuk memegang alat tulis serta belajar menulis.

Keterampilan motorik halus tumbuh ketika anak diberi kesempatan untuk memegang, menyusun, mencoba, dan menyelesaikan kegiatan dengan tangannya sendiri.

Sedotan Menjadi Media Belajar Interaktif

CERIA RONCE merupakan singkatan dari Cara Edukasi, Ronce Interaktif untuk Melatih Motorik Halus melalui Sedotan. Inovasi ini menghadirkan permainan meronce menggunakan potongan sedotan warna-warni, tali atau benang, serta kardus bekas sebagai media pendukung. Bahan yang sederhana tersebut disusun menjadi kegiatan yang menarik dan mudah dilakukan anak.

Pada tahap awal, guru menyiapkan sedotan yang telah dipotong dalam berbagai warna. Anak kemudian memasukkan potongan sedotan ke dalam tali secara bertahap. Setiap gerakan mengambil, memegang, mengarahkan, dan memasukkan sedotan melatih kekuatan jari serta ketepatan koordinasi visual-motorik.

Kegiatan dapat dilakukan secara berkelompok, dengan setiap kelompok terdiri atas sekitar lima anak. Guru memberikan contoh penggunaan media sebelum anak mulai meronce sendiri. Melalui proses tersebut, anak belajar berinteraksi, bekerja sama, dan menunggu giliran. Suasana belajar pun menjadi lebih aktif dan menyenangkan.

Guru juga dapat memberi batas waktu sederhana untuk melatih ketangkasan tangan tanpa menghilangkan unsur bermain. Hasil kegiatan didokumentasikan melalui foto dan video sebagai bahan pemantauan serta evaluasi. Pendekatan ini membantu guru melihat perkembangan keterampilan anak dan memperbaiki metode pembelajaran pada kegiatan berikutnya.

Melatih Fokus, Kesabaran, dan Kreativitas

Meronce sedotan tidak hanya mengembangkan motorik halus. Anak juga belajar memusatkan perhatian karena proses memasukkan tali ke lubang sedotan membutuhkan ketelitian. Kegiatan yang dilakukan secara bertahap melatih kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mengelola emosi ketika anak menghadapi kesulitan.

Beragam warna dan susunan sedotan memberi ruang bagi anak untuk berkreasi. Mereka dapat mengenal pola, urutan, bentuk, dan kombinasi warna melalui hasil ronceannya. Kegiatan tersebut merangsang imajinasi sekaligus kemampuan kognitif. Anak juga memperoleh rasa percaya diri ketika berhasil menyelesaikan rangkaian yang dibuat.

Pemanfaatan sedotan dan kardus bekas memberi nilai tambahan dari sisi lingkungan. Bahan yang sebelumnya tidak terpakai dapat diolah menjadi media pembelajaran. Guru dapat mengenalkan konsep penggunaan kembali barang secara sederhana. Dengan demikian, anak mulai memahami kepedulian terhadap sampah sejak usia dini.

Dikembangkan melalui Observasi Kelas

Gagasan CERIA RONCE muncul setelah guru mengamati bahwa sebagian anak belum terbiasa memegang pensil dan masih sulit menjaga fokus selama pembelajaran. Pada Juli 2025, guru mengidentifikasi masalah dan merancang media dari sedotan, tali, serta kardus bekas. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan, kesederhanaan, dan daya tarik bagi anak.

Implementasi dilaksanakan pada Agustus 2025 dengan terlebih dahulu menjelaskan cara menggunakan media. Anak kemudian diajak mencoba kegiatan meronce secara langsung. Selama pelaksanaan, anak terlihat lebih aktif, antusias, dan saling berinteraksi. Gerakan tangan mereka juga terus terstimulasi melalui proses memasukkan sedotan ke tali.

Evaluasi dilakukan setelah kegiatan untuk memperoleh tanggapan dan melihat ketercapaian tujuan pembelajaran. Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan media, waktu pelaksanaan, serta pendampingan guru. CERIA RONCE diharapkan menjadi kegiatan belajar yang mudah diterapkan dan membantu anak mempersiapkan keterampilan dasar secara menyenangkan.

Sumber: CERIA RONCE (Cara Edukasi, Ronce Interaktif untuk Melatih Motorik Halus melalui Sedotan) Tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *