SI LABU AIR Tekan Limbah B3, RSD Soemarno Hemat Biaya Pengolahan Puluhan Juta Rupiah

TREN LIMBAH MEDIS - Grafik asli dalam proposal SI LABU AIR menunjukkan jumlah limbah medis per bulan pada 2019 serta perbandingan tahunan 2018-2021 di RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Kabupaten Bulungan. Sumber: Proposal Inovasi SI LABU AIR.

RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo di Kabupaten Bulungan menghadirkan SI LABU AIR atau Efisiensi Pemilahan dan Pembuangan Cairan Infus ke IPAL sebagai inovasi untuk menekan volume limbah medis padat. Inovasi pelayanan publik non-digital yang diinisiasi Undang Trisnadi, A.Md.KL ini berangkat dari praktik pembuangan sisa cairan infus bersama kantongnya ke limbah B3. Cara tersebut membuat bobot limbah bertambah meski sebagian berat berasal dari cairan yang sebenarnya dapat dialirkan ke sistem pengolahan limbah cair. SI LABU AIR kemudian mendorong pemilahan yang lebih tepat sebelum kantong infus masuk ke jalur limbah medis padat.

Persoalan biaya menjadi salah satu pemicu utama lahirnya inovasi ini. Proposal mencatat tagihan pengolahan limbah B3 pada 2019 mencapai sekitar Rp1 miliar per tahun, sementara pembayaran kepada pihak ketiga dihitung berdasarkan berat limbah dalam kilogram. Satu liter sisa cairan infus yang ikut dibuang bersama kantong pada praktik lama ikut menambah beban tonase dan biaya pengolahan. Kondisi itu dinilai sebagai pemborosan yang dapat ditekan melalui perubahan prosedur kerja yang sederhana.

SI LABU AIR mengubah kebiasaan pembuangan dengan memisahkan sisa cairan infus dari kemasan sebelum limbah padat ditempatkan pada jalur pengelolaan B3. Cairan dialirkan ke saluran limbah cair menuju instalasi pengolahan air limbah, sedangkan kantong infus diperlakukan sesuai prosedur limbah medis yang berlaku. Dengan langkah tersebut, berat limbah padat yang harus diangkut dan dimusnahkan pihak ketiga dapat berkurang. Perubahan ini juga menuntut kepatuhan petugas ruang perawatan dan instalasi gawat darurat agar pemilahan berjalan konsisten.

Dari sisi biaya, inovasi ini dirancang dengan kebutuhan implementasi yang sangat rendah dibandingkan potensi penghematan yang dihasilkan. Proposal menyebut biaya inovasi sekitar Rp267 ribu, sementara penghematan pengelolaan limbah B3 mencapai Rp42,354 juta dalam satu bulan. Penurunan biaya yang dicatat mencapai 55,5 persen setelah petugas menjalankan proses pemilahan dan pembuangan cairan infus secara lebih tepat. Efisiensi tersebut menjadi salah satu alasan SI LABU AIR dipertahankan sebagai bagian dari perbaikan pengelolaan limbah rumah sakit.

Perubahan tidak hanya terlihat dari sisi pengeluaran, tetapi juga dari tren jumlah limbah medis setelah inovasi diterapkan. Grafik dalam proposal menunjukkan jumlah limbah medis tahunan menurun setelah 2019 dan berada pada level lebih rendah pada 2020 serta 2021 dibandingkan dua tahun sebelumnya. Tren bulanan 2019 juga memperlihatkan penurunan yang lebih jelas menjelang akhir tahun, bertepatan dengan periode pelaksanaan inovasi pada Oktober. Data visual tersebut menjadi pendukung bahwa perbaikan pemilahan dapat berkontribusi pada pengurangan beban limbah padat medis.

Pelaksanaan SI LABU AIR dimulai melalui tahap perencanaan pada September 2019 dengan konsultasi, identifikasi masalah, dan penyusunan rancangan inovasi. Tahap pelaksanaan dilakukan pada Oktober 2019 setelah uji coba dimulai pada 1 September dan implementasi tercatat pada 30 Oktober 2019. Monitoring dan evaluasi kemudian digunakan untuk melihat keberlanjutan hasil, termasuk kepatuhan petugas dalam menjalankan prosedur yang telah ditetapkan. Dengan tahapan tersebut, inovasi tidak berhenti sebagai gagasan penghematan tetapi menjadi perubahan proses kerja di lingkungan rumah sakit.

Kepatuhan petugas menjadi faktor kunci karena keberhasilan SI LABU AIR bergantung pada disiplin pemilahan sejak sumber limbah. Proposal mencatat tingkat kepatuhan petugas sebesar 86 persen pada 2020, 79 persen pada 2021, dan kembali meningkat menjadi 83 persen pada 2022. Angka itu memperlihatkan bahwa perubahan perilaku kerja perlu terus dijaga melalui pengawasan dan penguatan prosedur. Semakin konsisten pemilahan dilakukan, semakin besar peluang rumah sakit mempertahankan pengurangan limbah padat dan efisiensi biaya.

Bagi rumah sakit, manfaat inovasi tidak hanya berupa penghematan anggaran pengolahan limbah B3. Pemilahan yang lebih baik membantu menata alur pengelolaan limbah sehingga limbah cair dan limbah padat ditangani pada jalur yang sesuai dengan karakteristiknya. Proses ini juga mendukung upaya pengendalian lingkungan rumah sakit dan mengurangi potensi risiko yang muncul dari penanganan limbah medis yang kurang tepat. Dengan demikian, SI LABU AIR menghubungkan efisiensi operasional dengan kepatuhan pengelolaan limbah fasilitas kesehatan.

Inovasi ini menunjukkan bahwa efisiensi layanan publik tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau sistem digital yang kompleks. Perubahan prosedur sederhana pada titik pembuangan infus mampu menghasilkan penghematan yang jauh lebih besar dibandingkan biaya awal penerapannya. Pada saat yang sama, rumah sakit mendapatkan manfaat berupa penurunan volume limbah padat yang harus ditangani pihak ketiga. Pendekatan biaya rendah dan dampak tinggi inilah yang menjadi salah satu keunggulan utama SI LABU AIR.

Melalui SI LABU AIR, RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo menempatkan pengelolaan limbah sebagai bagian dari peningkatan efisiensi pelayanan rumah sakit. Inovasi ini membuktikan bahwa pembenahan dapat dimulai dari kebiasaan kerja yang sangat spesifik, yakni memisahkan cairan infus sebelum kemasannya masuk ke limbah B3. Ketika prosedur sederhana diterapkan secara disiplin, dampaknya dapat terlihat pada biaya, volume limbah, dan tata kelola lingkungan fasilitas kesehatan. Keberlanjutan inovasi kini bertumpu pada konsistensi petugas dan evaluasi rutin agar manfaat yang telah dicapai tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *