Puskesmas Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, menghadirkan SI RESTI atau Sistem Identifikasi Risiko Tinggi Ibu Hamil sebagai inovasi pelayanan publik untuk memperkuat deteksi dini dan kewaspadaan terhadap kehamilan berisiko. Inovasi non-digital yang diinisiasi Bdn. Siti Maraia Ulfa, SST ini mengubah pola identifikasi yang semula hanya tercatat dalam buku KIA menjadi sistem penandaan visual yang lebih mudah dikenali masyarakat. Penanda dipasang setelah ibu hamil melalui skrining, edukasi, dan persetujuan sehingga keluarga serta lingkungan sekitar mengetahui adanya kondisi yang perlu mendapat perhatian lebih. Pendekatan sederhana tersebut diarahkan untuk mempercepat respons ketika muncul tanda bahaya kehamilan.
SI RESTI lahir dari tantangan keselamatan maternal yang masih membutuhkan perhatian serius di Kabupaten Bulungan. Proposal mencatat wilayah kerja Puskesmas Tanah Kuning memiliki 383 ibu hamil pada 2023, dengan dua kematian ibu bersalin akibat perdarahan yang berasal dari Desa Pura Sajau dan Desa Wonomulyo. Pada 2024, jumlah ibu hamil meningkat menjadi 412 dengan 351 persalinan, sementara tidak tercatat kematian ibu hamil maupun ibu nifas. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan skrining, pemantauan, dan sistem rujukan sejak masa kehamilan.
Salah satu masalah yang disorot adalah keterlambatan mengenali tanda bahaya, keterlambatan mengambil keputusan, serta keterlambatan mencapai fasilitas pelayanan kesehatan. Sebelum inovasi diterapkan, identifikasi ibu hamil risiko tinggi hanya tercatat dalam administrasi kesehatan dan belum mudah diketahui oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, kewaspadaan keluarga dan masyarakat terhadap kondisi ibu hamil berisiko belum optimal ketika terjadi perubahan kondisi secara mendadak. SI RESTI kemudian dirancang untuk membawa informasi risiko keluar dari catatan internal menjadi tanda kewaspadaan yang dapat dikenali bersama.
Pada 2023, Puskesmas Tanah Kuning mencatat 36 ibu hamil risiko tinggi dari berbagai kondisi seperti kekurangan energi kronis, anemia, hipertensi, protein urine positif, HIV, dan HBsAg reaktif. Setahun kemudian, jumlah ibu hamil risiko tinggi yang teridentifikasi meningkat menjadi 91 kasus dengan ragam risiko yang lebih luas, termasuk preeklamsia atau eklamsia dan komplikasi lainnya. Proposal menyebut peningkatan identifikasi dari 36 menjadi 91 kasus sebagai kenaikan 152,8 persen, yang menunjukkan skrining mampu menemukan lebih banyak kehamilan berisiko. Kenaikan temuan tidak diposisikan sebagai memburuknya layanan, melainkan sebagai penguatan kemampuan sistem dalam mengenali risiko lebih dini.
Keunggulan SI RESTI terletak pada penggunaan media visual yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat. Bendera atau penanda SI RESTI ditempatkan di rumah ibu hamil risiko tinggi setelah tenaga kesehatan memberikan penjelasan dan memperoleh persetujuan dari ibu serta keluarga. Penanda tersebut menjadi pengingat bahwa ibu membutuhkan pemantauan lebih intensif dan respons cepat apabila muncul kondisi kegawatdaruratan. Konsep ini dikembangkan dengan pendekatan biaya rendah tetapi berdampak tinggi karena tidak membutuhkan teknologi rumit untuk meningkatkan kewaspadaan bersama.
Alur pelaksanaan SI RESTI dimulai dengan pendataan dan skrining seluruh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tanah Kuning. Tenaga kesehatan kemudian menentukan status risiko berdasarkan hasil pemeriksaan, memberikan edukasi mengenai kondisi yang ditemukan, dan menjelaskan tujuan pemasangan penanda kepada keluarga. Setelah persetujuan diperoleh, penanda dipasang pada lokasi yang mudah terlihat dan kondisi ibu dicatat dalam register pemantauan. Tahap berikutnya dilakukan melalui kunjungan rutin, pemantauan oleh bidan dan kader, serta pelaporan segera jika ditemukan tanda bahaya.
Pelibatan keluarga, kader, dan masyarakat menjadi pembeda penting dalam pendekatan SI RESTI. Pemantauan tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi diperluas menjadi kewaspadaan berbasis komunitas di sekitar ibu hamil. Masyarakat diharapkan lebih cepat mengenali kondisi yang membutuhkan bantuan, sedangkan kader dan keluarga berperan dalam pendampingan serta penyampaian informasi kepada petugas. Kolaborasi tersebut memperkuat jejaring keselamatan maternal dari rumah hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
Proposal mencatat implementasi SI RESTI berdampak pada peningkatan deteksi dini dan penguatan respons terhadap ibu hamil risiko tinggi. Jumlah ibu hamil risiko tinggi yang teridentifikasi meningkat dari 36 kasus pada 2023 menjadi 91 kasus pada 2024, sementara kematian ibu yang sebelumnya tercatat dua kasus menjadi nihil pada 2024. Dokumen juga menyebut tidak terdapat kasus kematian ibu pada 2024 dan 2025 di wilayah kerja Puskesmas Tanah Kuning setelah penguatan pemantauan. Capaian ini ditempatkan sebagai indikasi positif dari sistem kewaspadaan, pemantauan, dan rujukan yang lebih kuat.
Manfaat SI RESTI tidak hanya berada pada aspek pencatatan, tetapi juga pada perubahan perilaku kewaspadaan di tingkat keluarga dan masyarakat. Penanda visual membantu lingkungan sekitar mengetahui bahwa seorang ibu hamil memerlukan perhatian khusus, sekaligus mendorong bantuan lebih cepat ketika ditemukan tanda bahaya. Bagi tenaga kesehatan, sistem ini mempermudah identifikasi wilayah dan pemantauan ibu hamil berisiko secara berkala. Bagi pemerintah daerah, inovasi menjadi contoh intervensi sederhana yang dapat mendukung upaya menekan komplikasi serta kematian ibu dan bayi.
SI RESTI menunjukkan bahwa inovasi pelayanan kesehatan dapat dibangun dari solusi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan menggabungkan skrining, edukasi, penandaan visual, pemantauan, dan rujukan, Puskesmas Tanah Kuning berupaya memperkuat keselamatan ibu sejak masa kehamilan. Sistem ini menempatkan keluarga dan masyarakat sebagai bagian aktif dari mata rantai kewaspadaan, bukan hanya sebagai penerima informasi. Ketika risiko dikenali lebih awal dan respons dapat digerakkan lebih cepat, peluang mencegah keterlambatan penanganan menjadi semakin besar.