BAPOPI, Buku Pop-Up Interaktif Hidupkan Literasi Berbasis Kearifan Lokal di SDN Sembung

Literasi menjadi fondasi penting bagi siswa untuk memahami berbagai mata pelajaran, tetapi kebiasaan membaca di SD Negeri Sembung masih menghadapi sejumlah tantangan. Evaluasi awal pada tahun pelajaran 2024/2025 mencatat sekitar 65 persen siswa belum memiliki minat baca yang baik dan sebagian besar masih terbatas pada buku paket wajib. Keterbatasan koleksi perpustakaan, ruang baca yang belum nyaman, serta minimnya media pembelajaran interaktif ikut memengaruhi kondisi tersebut. Dari kebutuhan itulah BAPOPI atau Bahasa Pop-Up Interaktif dikembangkan sebagai cara baru menghadirkan kegiatan membaca dan menulis yang lebih menarik.

BAPOPI memanfaatkan buku pop-up tiga dimensi untuk mengubah teks menjadi pengalaman belajar yang lebih visual, interaktif, dan multisensori. Ketika halaman dibuka, elemen tiga dimensi, flap, bagian yang dapat ditarik, dan tekstur taktil membantu siswa berinteraksi langsung dengan isi cerita. Pembelajaran tidak hanya mengandalkan kemampuan membaca teks, tetapi juga melibatkan penglihatan, sentuhan, dan kegiatan mendongeng. Pendekatan tersebut dirancang agar siswa lebih mudah memahami isi bacaan sekaligus mempertahankan perhatian selama proses belajar.

Keunikan BAPOPI terletak pada keterlibatan siswa sebagai pembuat media, bukan sekadar pengguna. Guru dan siswa berkolaborasi mulai dari mengeksplorasi cerita lokal, menyusun narasi, merancang ilustrasi, hingga membangun mekanisme pop-up. Proses kreatif ini melatih kemampuan menulis, berbahasa, visual-spasial, dan pemecahan masalah secara bersamaan. Hasilnya, kegiatan literasi berkembang menjadi proses mencipta yang memberi ruang lebih besar bagi imajinasi dan kreativitas siswa.

Cerita lokal menjadi unsur penting agar materi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Cerita rakyat, tradisi daerah, dan kisah dari lingkungan sekitar dapat diolah menjadi isi buku sehingga pembelajaran literasi sekaligus mengenalkan kearifan lokal. Bahan pembuatannya pun sederhana dan terjangkau, seperti kertas karton, kain perca, dan alat tulis yang mudah ditemukan. Dengan desain yang fleksibel, tingkat kesulitan buku pop-up dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan belajar siswa.

BAPOPI juga dirancang untuk memperluas budaya literasi hingga ke rumah dan lingkungan masyarakat. Orang tua dan masyarakat dapat dilibatkan melalui workshop pembuatan buku pop-up, penyediaan bahan bacaan, kegiatan storytelling, maupun pameran karya siswa. Kolaborasi tersebut membuat literasi tidak berhenti sebagai aktivitas di kelas, tetapi berkembang menjadi kebiasaan bersama. Bagi sekolah, pendekatan ini sekaligus membuka peluang membangun identitas pembelajaran yang mengangkat budaya lokal sebagai sumber belajar.

Pengembangan BAPOPI dilakukan secara bertahap dalam waktu sekitar tiga bulan. Bulan pertama digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan literasi dan merancang konsep media, dilanjutkan pembuatan prototipe serta uji coba terbatas pada bulan kedua. Pada bulan ketiga, media diterapkan lebih luas di kelas sembari dilakukan monitoring terhadap minat dan kemampuan literasi siswa. Perbaikan desain dan isi dilakukan berdasarkan respons siswa serta hasil evaluasi selama penggunaan media.

Melalui BAPOPI, SDN Sembung berupaya mengubah pembelajaran literasi yang sebelumnya cenderung konvensional menjadi lebih partisipatif, kontekstual, dan menyenangkan. Siswa memperoleh kesempatan membaca, menulis, merancang, serta mempresentasikan karya yang mereka buat sendiri. Guru mendapatkan alternatif media ajar yang kreatif, sementara orang tua dan masyarakat memiliki ruang untuk ikut memperkuat budaya membaca. Dengan pendekatan tersebut, BAPOPI diharapkan menumbuhkan generasi yang lebih kreatif, kritis, dan dekat dengan budaya literasi sejak sekolah dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *