Antusiasme siswa SDN Kepatihan terhadap perpustakaan sekolah menjadi modal penting untuk membangun budaya literasi yang lebih kuat. Namun, kunjungan yang sebelumnya masih bersifat insidental membuat perpustakaan belum sepenuhnya terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Kondisi tersebut mendorong lahirnya BELARI-KU PERPUS atau Kegiatan Belajar Sehari/Minggu dengan Sumber Belajar Buku Perpus sebagai program yang menjadwalkan kegiatan belajar berbasis perpustakaan secara rutin. Melalui inovasi ini, perpustakaan diarahkan menjadi ruang belajar aktif, bukan hanya tempat membaca atau meminjam buku.
BELARI-KU PERPUS mengalokasikan satu hari setiap minggu untuk kegiatan literasi yang terhubung dengan materi pembelajaran. Guru dan pustakawan menyusun jadwal kunjungan agar setiap kelas memperoleh kesempatan yang seimbang untuk memanfaatkan koleksi perpustakaan. Siswa tidak hanya membaca bebas, tetapi juga diarahkan mengeksplorasi buku sesuai tema, mencatat informasi penting, berdiskusi, dan menyampaikan kembali hasil bacaan. Pola tersebut membantu siswa membangun kebiasaan belajar mandiri sekaligus memperluas sumber belajar di luar buku paket.

Tema literasi dirancang sesuai tingkat perkembangan siswa agar kegiatan tetap kontekstual dan menyenangkan. Untuk kelas rendah, tema dapat berupa lingkungan sekitar, keluarga, atau hewan, sedangkan kelas tinggi memperoleh tema yang lebih kompleks seperti tokoh lokal, fenomena alam, dan literasi matematika. Setiap tema dilengkapi pertanyaan pemandu, daftar bacaan, serta aktivitas kreatif seperti jurnal refleksi, diagram, presentasi, atau proyek kecil berbasis buku. Pendekatan ini membuat kegiatan membaca lebih bermakna karena siswa mengolah informasi dan menghubungkannya dengan pengalaman belajar di kelas.
Pedoman teknis BELARI-KU PERPUS mencatat bahwa masih terdapat kesenjangan kemampuan literasi di tingkat sekolah dasar dan menempatkan pembiasaan membaca terstruktur sebagai salah satu strategi perbaikan. Program ini karena itu tidak hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan perpustakaan, tetapi juga kemampuan siswa memahami, menafsirkan, dan mengomunikasikan isi bacaan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memilih sumber dan menilai informasi, sementara pustakawan ikut merancang tantangan membaca serta panduan eksplorasi koleksi. Sinergi tersebut mengubah peran perpustakaan menjadi pusat pembelajaran yang lebih dinamis.
Pelaksanaan BELARI-KU PERPUS juga disertai sistem monitoring dan evaluasi secara berkala. Guru dan pustakawan menilai perkembangan siswa melalui kelengkapan jurnal bacaan, kedalaman refleksi, kreativitas tugas, serta partisipasi dalam diskusi. Karya siswa kemudian dapat dipajang dalam pameran mini literasi sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi siswa lain. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk memperbaiki tema, metode pendampingan, maupun sistem penilaian agar program tetap sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Program ini turut menargetkan keterlibatan orang tua, komunitas, dan instansi terkait dalam memperkuat ekosistem literasi sekolah. Kemitraan dengan perpustakaan daerah dan program literasi keluarga diharapkan memperluas akses siswa terhadap sumber bacaan yang beragam. Sekolah juga mendorong peningkatan kapasitas guru dan pustakawan dalam teknik guided reading serta pengelolaan perpustakaan ramah anak. Dukungan bersama tersebut penting agar budaya membaca tidak hanya tumbuh pada saat jadwal BELARI-KU PERPUS, tetapi menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Hasil pelaksanaan yang dicatat dalam pedoman menunjukkan perubahan fungsi perpustakaan sekolah menjadi ruang belajar yang lebih hidup, dengan kunjungan sukarela siswa yang mulai meningkat di luar jadwal rutin. Jurnal bacaan, karya mini kreatif, dan diskusi siswa menjadi indikator bahwa aktivitas literasi mulai berkembang dari sekadar membaca menuju proses memahami dan mengolah informasi. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan angka kunjungan perpustakaan serta memperbaiki kemampuan literasi siswa secara bertahap. Dengan konsistensi pelaksanaan, BELARI-KU PERPUS diharapkan menjadi model pembelajaran berbasis perpustakaan yang dapat dikembangkan di sekolah lain di Kabupaten Lamongan.
Sumber bahan: BELARI-KU PERPUS (Kegiatan Belajar Sehari/Minggu dengan Sumber Belajar Buku Perpus), Kabupaten Lamongan; serta dokumentasi resmi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan.