SDN 008 Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, menghadirkan CERDAS (Catatan Evaluasi, Raport, dan Administrasi Siswa) sebagai inovasi digital untuk menyederhanakan pengelolaan penilaian peserta didik. Inovasi pelayanan publik yang diinisiasi Ateng Jaelani, S.Pd.SD ini dirancang agar proses evaluasi, penyusunan rapor, dan administrasi kelas dapat dilakukan lebih cepat serta terstruktur. CERDAS mulai diujicobakan pada 2 Januari 2025 dan dicatat memasuki tahap implementasi pada 30 Maret 2025. Kehadirannya diarahkan untuk mengurangi beban administrasi guru sekaligus menjaga data akademik tetap akurat, aman, dan mudah digunakan.
Lahirnya CERDAS berangkat dari persoalan pengelolaan nilai dan rapor yang masih konvensional di sejumlah sekolah di Kabupaten Bulungan. Pengolahan data secara manual atau melalui aplikasi pengolah angka yang tidak terintegrasi membuat pekerjaan guru rentan terhadap kesalahan pencatatan dan risiko kehilangan data. Dalam proposal inovasi disebutkan bahwa penyusunan rapor secara manual dapat memerlukan waktu hingga enam jam untuk satu peserta didik. Waktu yang panjang itu dinilai mengurangi ruang guru untuk menyiapkan pembelajaran dan mendampingi perkembangan siswa di kelas.
Tekanan administratif tersebut menjadi semakin terasa di tengah tantangan pemerataan tenaga pendidik di wilayah Bulungan. Proposal menggambarkan terdapat 145 sekolah dasar yang tersebar di berbagai kecamatan, termasuk sekolah yang berada di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. Pada sejumlah lokasi, kekurangan guru membuat seorang pendidik harus menangani kelas rangkap sekaligus mengampu banyak mata pelajaran. Karena itu, penyederhanaan pekerjaan administrasi dipandang penting agar energi guru tidak semakin tersita di luar kegiatan belajar mengajar.
CERDAS menawarkan pola kerja yang lebih ringkas dengan memanfaatkan antarmuka yang dikustomisasi pada Microsoft Excel. Sistem dilengkapi Custom Menu Ribbon, tombol perintah cepat, dan formulasi logika yang mengolah nilai secara otomatis. Guru cukup memasukkan nilai pada mata pelajaran yang diperlukan, kemudian sistem mendistribusikan data sekaligus membentuk deskripsi capaian kompetensi. Hasil pengolahan selanjutnya dapat disiapkan menjadi draf rapor yang siap dicetak.
Perubahan paling terasa terdapat pada waktu pengolahan rapor. Proposal CERDAS mencatat proses yang sebelumnya dapat menyita hingga enam jam kini dapat diselesaikan sekitar 15 menit per peserta didik. Otomatisasi juga mengurangi pekerjaan berulang saat guru menyusun deskripsi capaian kompetensi pada akhir semester. Dengan waktu administrasi yang lebih singkat, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk kembali berfokus pada perencanaan pembelajaran dan pendampingan siswa.
Pengembangan CERDAS dilakukan melalui tahap rekayasa perangkat lunak, kustomisasi sistem, pengujian kualitas, dan implementasi lapangan. Pada tahap pengembangan, inovator bersama rekan guru menyusun antarmuka, command button, serta matriks rumus yang menghitung dan mengubah angka menjadi narasi capaian belajar. Sistem kemudian diuji melalui simulasi penginputan nilai untuk menemukan bug dan memastikan rumus otomatis bekerja sesuai kebutuhan. Setelah dinilai siap, aplikasi digunakan oleh guru kelas sebagai bagian dari transisi dari pengisian rapor manual menuju pengelolaan digital.
Selain mengejar efisiensi, CERDAS dikembangkan untuk memperkuat akuntabilitas dan transparansi penilaian. Sistem ditujukan untuk menghasilkan rekam jejak akademik yang mudah diakses sekolah dan tenaga pendidik saat dibutuhkan. Pengolahan yang lebih terstandardisasi diharapkan mengurangi human error serta menjaga data capaian peserta didik tetap dapat dipertanggungjawabkan. Laporan hasil belajar juga dapat disiapkan dalam bentuk cetak maupun dokumen digital untuk mendukung distribusi kepada orang tua.
Isu lain yang dijawab CERDAS adalah ketergantungan sekolah terhadap aplikasi rapor pihak ketiga yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali sekolah atau daerah. Dalam proposal disebutkan, kendala teknis pada aplikasi eksternal dapat memperlambat perbaikan karena proses penanganannya bergantung pada pihak lain. CERDAS dikembangkan sebagai sistem yang dapat dikelola secara lokal sehingga penyesuaian kebutuhan dan pemeliharaan lebih dekat dengan pengguna. Pendekatan ini sekaligus ditempatkan sebagai bagian dari penguatan tata kelola pendidikan berbasis elektronik di Kabupaten Bulungan.
Secara strategis, CERDAS dikaitkan dengan penerapan Kurikulum Merdeka, terutama dalam pengelolaan asesmen formatif dan sumatif. Inovasi ini juga ditempatkan sebagai dukungan terhadap SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas serta penguatan sains dan teknologi di sektor pendidikan. Pada tingkat daerah, CERDAS disebut mendukung akselerasi digitalisasi pendidikan dan penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Keselarasan tersebut memperkuat posisi CERDAS bukan hanya sebagai alat pengolah nilai, tetapi sebagai bagian dari pembenahan tata kelola administrasi sekolah.
Jangkauan CERDAS dalam proposal disebut tidak berhenti di satu sekolah. Dokumen inovasi mencatat aplikasi rapor ini telah diimplementasikan pada 18 sekolah dasar di enam wilayah kecamatan dan memfasilitasi pengelolaan data akademik bagi 1.707 peserta didik. Replikasi tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap sistem administrasi penilaian yang praktis tidak hanya dirasakan oleh sekolah penggagas. Penggunaan di sejumlah sekolah juga menjadi ruang untuk menguji kemampuan sistem ketika diterapkan pada kondisi kelas dan jumlah peserta didik yang berbeda.
Kemudahan distribusi menjadi manfaat lain yang ditawarkan CERDAS. Hasil pengolahan penilaian dapat disiapkan dalam bentuk cetakan fisik untuk kebutuhan sekolah sekaligus dokumen digital yang dapat digunakan ketika diperlukan. Fleksibilitas itu membantu sekolah menyajikan informasi hasil belajar secara lebih praktis kepada orang tua tanpa mengubah substansi penilaian yang telah diolah guru. Pada saat yang sama, penyimpanan data yang lebih terstruktur memberi sekolah rekam jejak akademik yang lebih mudah ditelusuri.
Melalui CERDAS, digitalisasi diarahkan bukan sekadar mengganti pencatatan manual dengan komputer, tetapi menyederhanakan alur kerja yang selama ini menyita waktu guru. Satu kali input nilai dapat diteruskan ke berbagai kebutuhan pengolahan sehingga pekerjaan administratif tidak harus diulang dari awal. Sistem yang dikembangkan dari kebutuhan guru juga membuat fungsi-fungsi aplikasi lebih dekat dengan proses penilaian sehari-hari di sekolah. Pada akhirnya, inovasi ini ditujukan agar waktu dan energi pendidik lebih banyak kembali ke fungsi utama, yakni merancang pembelajaran dan mendampingi peserta didik.