Puskesmas Kedungpring Kabupaten Lamongan menghadirkan TEBAS KUKU BIMA sebagai inovasi untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan bagi lansia, khususnya laki-laki yang selama ini cenderung kurang aktif mengikuti Posyandu Lansia. Gagasan ini lahir dari usulan masyarakat Desa Blawirejo dalam kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa yang menghendaki pelayanan Posbindu PTM dan Posyandu Lansia dilaksanakan di masjid setelah salat Jumat. Momentum berkumpulnya warga dinilai lebih efektif untuk menjangkau sasaran dalam jumlah lebih banyak. Pendekatan ini sekaligus menjadi cara baru mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat tanpa menunggu mereka datang ke fasilitas pelayanan.
Nama TEBAS KUKU BIMA merupakan kepanjangan dari Temukan Obati Agar Tetap Sehat dengan Kolaborasi Kunjungan Posyandu Lansia Bersama Warga Setelah Ibadah Sholat Jumat. Inovasi ini berfokus pada deteksi dini Penyakit Tidak Menular atau PTM yang banyak dijumpai pada usia lanjut. Jenis penyakit yang menjadi sasaran skrining meliputi hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke atau CVA, serta penyakit paru obstruktif kronis. Dengan skrining lebih awal, faktor risiko dapat diketahui sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan di sejumlah masjid di Desa Blawirejo, yaitu Masjid Baiturrohim, Masjid Baiturrahman, dan Masjid At-Taqwa. Sasaran utamanya adalah penduduk berusia 45 tahun ke atas yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Kedungpring. Setelah ibadah Jumat, warga dapat mengikuti rangkaian pelayanan mulai dari senam lansia, anamnesis riwayat penyakit, pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, dan tekanan darah. Pemeriksaan ini menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi risiko PTM pada peserta.
Bagi peserta yang memiliki keluhan atau faktor risiko, pemeriksaan dilanjutkan oleh dokter sesuai kebutuhan. Layanan juga mencakup pemeriksaan laboratorium sederhana seperti gula darah, asam urat, dan kolesterol berdasarkan indikasi. Hasil pemeriksaan kemudian digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat risiko penyakit tidak menular. Peserta memperoleh konseling sesuai hasil pemeriksaan agar memahami langkah yang perlu dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatannya.
TEBAS KUKU BIMA tidak hanya berhenti pada tahap skrining. Warga yang ditemukan memiliki masalah kesehatan dapat memperoleh pengobatan maupun rujukan untuk penatalaksanaan lebih lanjut. Konsultasi juga tersedia secara langsung dan melalui WhatsApp kepada petugas maupun dokter Puskesmas Kedungpring. Fasilitas konsultasi daring tersebut memungkinkan lansia tetap terhubung dengan tenaga kesehatan meskipun tidak sedang berada di lokasi kegiatan.
Pemilihan waktu setelah salat Jumat menjadi salah satu unsur kebaruan utama inovasi ini. Selama ini, tingkat kehadiran lansia laki-laki dalam kegiatan Posyandu Lansia di desa dinilai masih rendah. Dengan memanfaatkan waktu ketika masyarakat berkumpul di masjid, pelayanan kesehatan dapat dibawa lebih dekat ke rutinitas warga. Strategi tersebut diharapkan meningkatkan partisipasi pemeriksaan rutin sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa deteksi dini PTM perlu dilakukan sebelum muncul komplikasi.
Dalam jangka panjang, TEBAS KUKU BIMA diarahkan untuk membantu menurunkan angka kesakitan akibat penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Pemeriksaan rutin, konseling, pengobatan, dan rujukan menjadi rangkaian pelayanan yang saling terhubung. Inovasi ini juga memperkuat peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan melalui kolaborasi antara warga, kader, dan tenaga kesehatan. Dengan partisipasi yang lebih luas, lansia diharapkan dapat tetap sehat, mandiri, dan produktif dalam kehidupan sehari-hari.
Pedoman teknis menyebut mekanisme pelayanan inovasi dapat menghasilkan proses dalam waktu satu hari, sedangkan proses penciptaan inovasinya berlangsung sekitar satu hingga tiga bulan. TEBAS KUKU BIMA menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dapat disesuaikan dengan kebiasaan dan pola aktivitas masyarakat tanpa mengurangi kualitas pemeriksaan. Integrasi kegiatan keagamaan dengan layanan promotif, preventif, konsultatif, dan kuratif menjadi kekuatan utama program ini. Puskesmas Kedungpring melalui inovasi tersebut berupaya membuat deteksi dini PTM lebih mudah dijangkau oleh lansia di wilayah kerjanya.