SI ALPAMIL Bantu Bidan Pantau Ibu Hamil, Alarm HPL Perkuat Deteksi Risiko di Kabupaten Bekasi

Bekasi – UPT Puskesmas Cipayung, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, mengembangkan SI ALPAMIL atau Aplikasi Alarm Pemantau Ibu Hamil untuk memperkuat pemantauan kesehatan ibu sejak masa kehamilan hingga nifas. Aplikasi digital ini membantu bidan desa mencatat data ibu hamil, memantau Hari Perkiraan Lahir (HPL), mengenali kondisi kehamilan berisiko tinggi, dan menghubungi ibu hamil ketika diperlukan. Kehadiran sistem pengingat dan alarm otomatis membuat pemantauan tidak hanya bergantung pada pencatatan manual. Inovasi ini sekaligus diarahkan untuk mendukung pencegahan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di wilayah kerja Puskesmas Cipayung.

Pengembangan SI ALPAMIL berangkat dari persoalan masih ditemukannya kematian ibu dan bayi serta ibu hamil berisiko tinggi yang belum terpantau secara optimal. Data dalam proposal mencatat satu kasus kematian bayi pada 2022, sementara pada periode 2023-2026 terdapat dua kasus kematian bayi dan dua kasus kematian ibu. Pada periode yang sama, sebanyak 730 ibu hamil tercatat berasal dari seluruh wilayah kerja UPT Puskesmas Cipayung. Kondisi tersebut mendorong puskesmas membangun sistem pemantauan yang dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui kondisi ibu hamil secara lebih cepat dan terstruktur.

Cara kerja SI ALPAMIL dimulai ketika bidan desa memasukkan identitas dan data kehamilan ibu ke dalam aplikasi. Sistem kemudian memantau HPL dan memberikan tanda visual serta notifikasi ketika waktu persalinan semakin dekat. Dalam versi awal, layar aplikasi berubah dari putih menjadi oranye ketika memasuki tujuh hari sebelum HPL, kemudian menjadi merah disertai alarm ketika HPL tiba. Pada pengembangan terbaru, menu notifikasi dapat memberikan peringatan sejak 30 hari sebelum HPL sehingga bidan memiliki waktu lebih panjang untuk memastikan kesiapan ibu hamil menjelang persalinan.

Fitur pemantauan tersebut juga dilengkapi dengan informasi status risiko kehamilan dan akses komunikasi langsung dengan ibu hamil. Ketika notifikasi muncul, bidan desa dapat segera menghubungi ibu melalui nomor telepon atau WhatsApp untuk mengetahui kondisi terkini, memastikan pemeriksaan kehamilan tetap dilakukan, serta menyiapkan rencana persalinan. Data yang terkumpul turut membantu pelayanan PONED di puskesmas dalam mempersiapkan persalinan normal maupun kebutuhan rujukan ke rumah sakit apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lanjutan. Dengan pola tersebut, aplikasi berfungsi sebagai pengingat sekaligus alat koordinasi antara bidan desa, puskesmas, dan ibu hamil.

Pada tahap uji coba, SI ALPAMIL sempat menghadapi sejumlah kendala teknis, mulai dari perbedaan merek dan versi telepon seluler, proses instalasi, hingga alarm yang tidak selalu muncul pada beberapa perangkat. Tim pengelola kemudian melakukan penyempurnaan sistem, termasuk pengembangan tampilan baru, menu penambahan data ibu hamil, pengaturan alarm, dan daftar peringatan HPL. Penyempurnaan dilakukan agar aplikasi dapat digunakan lebih stabil dan informasi kehamilan dapat tersimpan sebagai bahan pemantauan maupun evaluasi puskesmas. Proses penciptaan inovasi ini berlangsung sekitar empat bulan mulai dari identifikasi masalah, perancangan sistem, pengembangan aplikasi, uji coba, hingga implementasi awal.

Manfaat SI ALPAMIL dirasakan terutama pada kemampuan bidan desa memantau ibu hamil secara lebih terarah, baik yang masuk kategori risiko tinggi maupun tidak. Aplikasi ini juga membantu memastikan ibu hamil memperoleh informasi tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan di posyandu maupun puskesmas serta mendorong persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan. Proposal mencatat penerima manfaat inovasi telah mencapai lebih dari 200 orang dan pengembangannya melibatkan lebih dari lima unsur pemangku kepentingan. Model SI ALPAMIL juga telah direplikasi di sejumlah puskesmas lain, menunjukkan bahwa sistem pemantauan berbasis alarm dinilai dapat diterapkan pada layanan kesehatan ibu di wilayah berbeda.

Melalui SI ALPAMIL, Puskesmas Cipayung berupaya menghubungkan teknologi sederhana dengan kebutuhan pelayanan kesehatan ibu yang membutuhkan respons cepat dan pemantauan berkelanjutan. Pengembangan fitur terus diarahkan agar aplikasi semakin mudah digunakan dan dapat menjangkau lebih banyak tenaga kesehatan maupun ibu hamil. Dalam jangka panjang, sistem ini diharapkan membantu memperkuat deteksi dini risiko kehamilan, kesiapan persalinan, serta koordinasi rujukan apabila ditemukan komplikasi. Dengan pemantauan yang lebih konsisten, keselamatan ibu dan bayi menjadi tujuan utama yang ingin diperkuat melalui inovasi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *