
Bekasi – UPTD Puskesmas Sukasejati mengembangkan inovasi GEMASS PADU (Gerakan Masyarakat Sadar Stunting Terpadu) untuk mengintegrasikan upaya pencegahan stunting sejak remaja putri hingga balita. Inovasi ini lahir dari evaluasi bahwa pelayanan remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, gizi balita, promosi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat sebelumnya berjalan melalui program yang terpisah. Pola tersebut membuat pemantauan faktor risiko dan tindak lanjut terhadap kelompok rentan belum selalu tersambung secara berkesinambungan. Melalui GEMASS PADU, seluruh tahapan pelayanan dirangkai dalam satu alur berbasis siklus kehidupan agar intervensi lebih mudah dipantau dan lebih tepat sasaran.
Pendekatan GEMASS PADU dimulai dari pencegahan risiko pada remaja putri, dilanjutkan pada calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita. Tujuh program dipadukan dalam satu sistem, yakni MAMIA untuk remaja putri tanpa anemia, CETIN Sejak CATIN untuk calon pengantin, BUNTING untuk ibu hamil anti stunting, OKE ASI untuk kelancaran ASI, BANTING untuk balita anti stunting, AYO PADU untuk optimalisasi posyandu, dan MEMANGKAS untuk pemenuhan pangan keluarga. Integrasi tersebut membuat edukasi, skrining, intervensi gizi, pemantauan, dan tindak lanjut dapat dilakukan secara berurutan tanpa memutus riwayat pelayanan sasaran. Puskesmas juga melibatkan pemerintah desa, kader Posyandu, PKK, sekolah, dan tokoh masyarakat agar pelayanan tidak hanya terpusat di fasilitas kesehatan.
Dukungan teknologi informasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan inovasi ini. Pencatatan status gizi balita dilakukan melalui ePPGBM dan ePuskesmas, sedangkan WhatsApp Group dimanfaatkan untuk mempercepat koordinasi antara petugas dan kader. Media sosial Puskesmas juga digunakan untuk menyebarkan edukasi mengenai gizi, kesehatan ibu-anak, dan pencegahan stunting. Dengan dukungan digital tersebut, informasi sasaran dapat diperbarui lebih cepat dan petugas lebih mudah menentukan kebutuhan intervensi berdasarkan data pelayanan.
Capaian program menunjukkan perbaikan pada sejumlah indikator gizi balita antara Triwulan IV 2025 dan Triwulan II 2026. Cakupan balita yang ditimbang meningkat dari 80,76 persen menjadi 86,16 persen, sedangkan balita yang ditimbang sekaligus diukur panjang atau tinggi badannya naik dari 80,76 persen menjadi 86,10 persen. Kepemilikan Buku KIA juga meningkat dari 97,03 persen menjadi 98,01 persen, sementara prevalensi balita stunting menurun dari 0,82 persen menjadi 0,70 persen dan wasting turun dari 1,06 persen menjadi 0,77 persen. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa pemantauan pertumbuhan dan deteksi dini masalah gizi semakin kuat, meskipun beberapa indikator tetap membutuhkan perhatian lanjutan.
Pada sisi intervensi, cakupan pemberian Vitamin A kepada balita usia 6–59 bulan tercatat 92,27 persen atau 3.939 dari 4.269 sasaran. Selain itu, 91,32 persen balita bermasalah gizi telah memperoleh makanan tambahan berbahan pangan lokal sebagai bagian dari upaya perbaikan status gizi. GEMASS PADU juga mendorong pemantauan keluarga berisiko melalui kunjungan rumah, edukasi gizi, serta pendampingan yang dilakukan petugas dan kader. Rangkaian tersebut menempatkan pencegahan stunting sebagai proses berkelanjutan yang tidak berhenti pada penimbangan, tetapi dilanjutkan dengan intervensi sesuai kebutuhan.
Monitoring pelaksanaan inovasi dilakukan secara berkala untuk memastikan pelayanan berjalan sesuai alur dan sasaran yang ditetapkan. Dalam salah satu monitoring pada Mei 2026, sebanyak 86 dari 92 sasaran hadir atau mencapai 93,48 persen, seluruh balita yang hadir menjalani penimbangan dan pengukuran, serta skrining status gizi dilakukan menggunakan KMS dan aplikasi ePPGBM. Balita yang mengalami masalah gizi mendapatkan tindak lanjut berupa pemberian makanan tambahan dan konseling gizi, sementara data pelayanan dicatat ke dalam register dan sistem elektronik. Hasil monitoring juga digunakan untuk menyusun tindak lanjut seperti kunjungan rumah bagi sasaran yang tidak hadir dan penguatan edukasi kepada orang tua.
Melalui GEMASS PADU, Puskesmas Sukasejati berupaya menjadikan pencegahan stunting sebagai gerakan bersama yang berlangsung sejak sebelum kehamilan hingga masa balita. Kolaborasi lintas program dan lintas sektor membuat pelayanan lebih terintegrasi, sementara penggunaan data membantu petugas menentukan intervensi secara lebih cepat dan terukur. Pendekatan berbasis siklus kehidupan juga memberi ruang lebih besar untuk mencegah faktor risiko sebelum berkembang menjadi masalah gizi pada anak. Dengan penguatan pelayanan, edukasi, teknologi informasi, dan partisipasi masyarakat, GEMASS PADU diharapkan terus mendukung penurunan stunting serta peningkatan kualitas kesehatan keluarga di Kabupaten Bekasi.