Lamongan – SDN Moropelang Kabupaten Lamongan mengembangkan STUPA KLASIK (Sabtu Pagi Kegiatan Literasi Asik) sebagai inovasi untuk menumbuhkan minat baca dan memperkuat kemampuan literasi peserta didik melalui kegiatan yang lebih santai, kreatif, dan menyenangkan. Sabtu pagi dipilih sebagai ruang khusus agar siswa dapat berinteraksi dengan buku tanpa tekanan akademik rutin. Kegiatan literasi dikemas melalui membaca bersama, mendongeng interaktif, permainan literasi, diskusi, dan proyek kreatif berbasis bacaan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengubah pandangan siswa bahwa membaca bukan sekadar kewajiban, melainkan pengalaman belajar yang dapat dinikmati.
STUPA KLASIK lahir dari tantangan rendahnya minat baca siswa sekolah dasar di tengah semakin kuatnya paparan konten digital instan. Kebiasaan mengakses video pendek dan media sosial membuat sebagian

anak lebih terbiasa menerima informasi secara cepat dibandingkan membaca teks yang membutuhkan konsentrasi. Di sisi lain, kegiatan literasi di sekolah sering terbatas oleh jadwal formal, sedangkan kebiasaan membaca di rumah belum selalu memperoleh dukungan yang memadai. Kondisi tersebut mendorong sekolah menghadirkan ruang literasi yang lebih humanis dan dekat dengan karakter anak.
Program ini menempatkan siswa sebagai pelaku aktif dalam kegiatan literasi. Melalui pendekatan student-driven exploration, siswa diberi kebebasan memilih bahan bacaan sesuai minat dengan tetap memperoleh pendampingan guru. Diskusi tidak hanya membahas isi bacaan, tetapi juga karakter tokoh, alur cerita, pesan, dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Kebebasan yang terarah tersebut membantu siswa membangun hubungan yang lebih personal dengan buku sekaligus melatih kemampuan memahami dan menginterpretasikan informasi.
Salah satu metode yang menjadi ciri STUPA KLASIK adalah cerita berantai kolaboratif. Guru dapat membuka sebuah cerita, kemudian siswa secara bergantian melanjutkan narasi berdasarkan imajinasi masing-masing. Aktivitas ini mengubah siswa dari pembaca pasif menjadi pencipta cerita yang aktif sekaligus melatih kemampuan berbicara, kreativitas, dan keterampilan menyimak. Diskusi kelompok kecil juga digunakan untuk membangun keberanian berpendapat dan kemampuan menghargai interpretasi teman.
Desain kegiatan Sabtu pagi disusun dalam sesi sekitar 90 menit. Lima belas menit pertama digunakan untuk pembukaan dan ice breaking literasi, sekitar 60 menit berikutnya diisi kegiatan inti yang bervariasi, sedangkan 15 menit terakhir digunakan untuk refleksi kreatif. Program mengembangkan reading buddy system, story chain game, dan book talk corner sebagai tiga metode interaktif utama. Suasana belajar dibuat lebih informal agar siswa merasa seperti berada di ruang bermain literasi, bukan mengikuti pelajaran formal biasa.
STUPA KLASIK juga menggunakan perangkat pendukung sederhana seperti dadu cerita, kartu diskusi, buku aktivitas interaktif, dan jurnal literasi. Kemajuan siswa tidak semata-mata dinilai melalui tes tertulis, melainkan melalui portofolio yang memperhatikan jumlah bacaan, kedalaman pemahaman, serta kreativitas respons terhadap buku. Sistem badge dan leveling dapat digunakan untuk mempertahankan motivasi siswa. Evaluasi semacam ini membuat perkembangan literasi dapat diamati tanpa menghilangkan suasana menyenangkan yang menjadi karakter utama program.
Pelibatan keluarga dan komunitas turut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem literasi. Program membuka ruang literacy parent day agar orang tua dapat terlibat dalam kegiatan membaca bersama, sementara kerja sama dengan perpustakaan daerah dan komunitas literasi dapat memperkaya sumber bacaan sekolah. Siswa yang aktif juga diarahkan menjadi duta literasi untuk mengajak teman lain membangun kebiasaan membaca. Dengan pola tersebut, budaya literasi tidak hanya berkembang di kelas, tetapi dapat menjangkau rumah dan lingkungan sekitar.
Melalui STUPA KLASIK, SDN Moropelang berupaya menjadikan literasi sebagai pengalaman yang dekat dengan kegembiraan, interaksi sosial, dan kreativitas anak. Program diarahkan untuk meningkatkan kosakata, kemampuan menulis, pemahaman bacaan, serta keberanian siswa menyampaikan gagasan. Kebiasaan membaca yang tumbuh secara alami diharapkan berkembang menjadi fondasi pembelajaran sepanjang hayat. Dengan memanfaatkan waktu, sumber daya sekolah, dan metode sederhana secara kreatif, STUPA KLASIK menunjukkan bahwa penguatan budaya literasi dapat dimulai dari kegiatan rutin yang konsisten dan menyenangkan.