
Kegiatan pembelajaran siswa sebagai bagian dari penguatan proses belajar yang menjadi semangat inovasi BANG SIS BERPENA (Sambang Siswa, Belajar Penuh Makna). Foto: RISDA Kabupaten Lamongan.
Pandemi Covid-19 meninggalkan tantangan besar bagi dunia pendidikan, termasuk munculnya learning loss akibat keterbatasan pembelajaran jarak jauh dan tidak meratanya sarana belajar. Kondisi tersebut juga dirasakan SD Negeri 1 Kelorarum, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, sehingga sekolah mencari pendekatan yang lebih personal untuk membantu siswa mengejar ketertinggalan. Pada Januari 2022, sekolah meluncurkan BANG SIS BERPENA atau Sambang Siswa, Belajar Penuh Makna sebagai program pendampingan belajar langsung di rumah siswa. Inovasi ini dirancang agar kebutuhan belajar setiap anak dapat ditangani secara lebih spesifik dan tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kelas.
BANG SIS BERPENA menggunakan pendekatan individual karena setiap siswa memiliki karakter, kecepatan, dan permasalahan belajar yang berbeda. Guru mendatangi rumah siswa setelah jam sekolah untuk memberikan pendampingan secara langsung berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Kegiatan dilakukan secara terjadwal pada Selasa, Kamis, dan Sabtu dengan sasaran satu siswa dalam setiap sesi pendampingan. Pola ini memberi ruang bagi guru untuk memahami kesulitan belajar secara lebih mendalam sekaligus menyesuaikan strategi pembelajaran yang digunakan.
Pendampingan individual juga mempertimbangkan beragam gaya belajar siswa, mulai dari visual, kinestetik, auditori, verbal, logis, sosial, hingga individual. Guru dapat memilih cara penyampaian materi yang lebih sesuai agar siswa lebih mudah memahami pelajaran yang sebelumnya tertinggal. Pendekatan tersebut penting karena learning loss tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama pada setiap anak. Dengan intervensi yang lebih personal, siswa diharapkan dapat membangun kembali pemahaman materi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dalam belajar.
Keterlibatan wali murid menjadi unsur penting dalam pelaksanaan BANG SIS BERPENA. Saat guru melakukan kunjungan, orang tua ikut mendampingi sehingga komunikasi mengenai perkembangan dan kendala belajar anak dapat dilakukan secara terbuka. Pertemuan di rumah juga memberi kesempatan bagi siswa maupun wali murid untuk menyampaikan keluhan, gagasan, atau kebutuhan yang mungkin tidak tersampaikan ketika berada di sekolah. Kolaborasi tersebut menjadikan program ini sebagai jembatan antara sekolah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
BANG SIS BERPENA tidak hanya menargetkan pemulihan kemampuan akademik, tetapi juga memperkuat aspek sosial dan emosional siswa. Interaksi yang lebih dekat dengan guru dapat membantu anak merasa diperhatikan dan memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan belajar. Orang tua pun mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai cara mendampingi anak di rumah. Hubungan yang positif antara guru, siswa, dan keluarga diharapkan menjadi fondasi bagi proses belajar yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Program ini juga menjadi bentuk pelayanan sekolah yang lebih aktif dengan membawa dukungan pendidikan langsung ke lingkungan tempat tinggal siswa. Alih-alih menunggu siswa menyampaikan masalah di sekolah, guru berupaya mengenali kondisi belajar secara langsung melalui kunjungan rumah. Cara tersebut membantu sekolah memahami faktor lingkungan yang mungkin memengaruhi proses belajar anak. Pendekatan sambang ini sekaligus memperkuat prinsip bahwa pelayanan pendidikan perlu menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa.
Pedoman teknis mencatat bahwa mekanisme pelayanan inovasi dapat menghasilkan proses dalam waktu satu hari, sedangkan proses penciptaannya dikembangkan sekitar satu hingga tiga bulan. Tahapan pengembangan meliputi identifikasi kebutuhan, perancangan, uji coba, peluncuran, monitoring, dan evaluasi agar program dapat terus disempurnakan. Dengan jadwal pendampingan yang rutin dan komunikasi langsung bersama wali murid, sekolah memiliki kesempatan untuk mengevaluasi perkembangan siswa secara berkala. Pola tersebut membuat intervensi pembelajaran dapat lebih cepat menyesuaikan perubahan kebutuhan siswa.
Melalui BANG SIS BERPENA, SD Negeri 1 Kelorarum berupaya mengembalikan pembelajaran yang sempat hilang sekaligus memperkuat hubungan sekolah dengan keluarga. Program ini menunjukkan bahwa pemulihan learning loss dapat dilakukan melalui langkah sederhana tetapi terarah, yakni mendatangi siswa, memahami kebutuhannya, dan memberikan pendampingan yang sesuai. Kehadiran guru di rumah menjadikan pembelajaran lebih personal dan memberi ruang komunikasi yang lebih luas bagi siswa maupun orang tua. Inovasi ini diharapkan terus membantu siswa berkembang secara akademik, sosial, dan emosional dengan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Sumber bahan: BANG SIS BERPENA (Sambang Siswa, Belajar Penuh Makna), Kabupaten Lamongan, 2023; foto pendukung: Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.