
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 di Lamongan menguatkan edukasi dan keberlanjutan layanan HIV. Foto: Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan.
Kasus HIV/AIDS masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan pendekatan edukasi dan pencegahan yang berkelanjutan. Stigma yang masih melekat kerap menyulitkan penderita memperoleh dukungan yang layak. Puskesmas Dradah menjawab persoalan tersebut melalui SIPELITA atau Sistem Informasi Pendidikan Literasi tentang HIV AIDS.
SIPELITA menggabungkan layanan edukasi tatap muka dengan media digital yang mudah diakses masyarakat. Materi edukasi mencakup pengetahuan dasar HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan, dan pentingnya deteksi dini. Konten disajikan dengan bahasa yang sederhana dan tidak menstigma.
Petugas puskesmas menyampaikan edukasi kepada kelompok sasaran seperti remaja, ibu hamil, dan kelompok berisiko. Layanan konseling dan tes HIV disediakan dengan menjunjung kerahasiaan pasien.
Program juga bermitra dengan sekolah, karang taruna, dan tokoh masyarakat sebagai penggerak literasi HIV/AIDS di komunitas. Kolaborasi tersebut memperluas jangkauan edukasi sekaligus mengurangi stigma yang sering menghambat penanganan.
SIPELITA menyediakan bahan edukasi yang dapat digunakan sekolah dan komunitas untuk kegiatan diskusi. Bahan tersebut disusun dengan format yang menarik dan sesuai bagi kelompok remaja yang menjadi salah satu sasaran utama.
Puskesmas Dradah memperkuat kolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah, sekolah, dan komunitas keagamaan. Sinergi tersebut memperluas jangkauan edukasi sekaligus membangun lingkungan yang mendukung upaya pencegahan dan pendampingan penderita.
SIPELITA menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS membutuhkan pendekatan yang berbasis pengetahuan dan empati. Puskesmas Dradah berupaya menjaga edukasi tetap sampai kepada berbagai kelompok masyarakat. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunitas yang lebih paham, lebih tanggap, dan lebih peduli terhadap sesama yang membutuhkan dukungan.
Melalui SIPELITA, Puskesmas Dradah berupaya menciptakan masyarakat yang lebih paham dan berempati terhadap isu HIV/AIDS. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pendampingan yang berbasis pengetahuan dan solidaritas.