
EMPAT LAWANG — SMP Negeri 2 Ulu Musi menghadirkan CERMAH atau Cerdas Kata Mahir Angka sebagai inovasi penguatan literasi dan numerasi. Program ini memanfaatkan majalah dinding sekolah yang selama ini lebih sering digunakan sebagai tempat pengumuman. Melalui CERMAH, mading diubah menjadi media pembelajaran yang memadukan bacaan, karya siswa, permainan bahasa, dan tantangan angka. Siswa dapat belajar di luar jam pelajaran tanpa harus masuk ke ruang khusus.
Gagasan CERMAH berangkat dari rendahnya minat membaca serta anggapan bahwa numerasi merupakan pelajaran yang sulit dan kurang menarik. Sebagian siswa belum terbiasa mencari informasi secara mandiri atau menyelesaikan persoalan angka dalam bentuk yang menyenangkan. Di sisi lain, sekolah memiliki mading yang mudah diakses tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber belajar. Kondisi tersebut mendorong lahirnya media sederhana yang dapat digunakan secara cepat, murah, dan berkelanjutan.
Kebaruan CERMAH terletak pada penggabungan literasi dan numerasi dalam satu ruang visual yang interaktif. Siswa tidak hanya membaca informasi, tetapi juga diajak menjawab teka-teki, memecahkan soal logika, dan mengirimkan karya. Setiap rubrik disusun agar pembaca aktif berpikir, bukan sekadar melihat lembaran yang ditempel. Mading pun berubah menjadi ruang dialog antara penulis, pembaca, dan pengelola.

Pojok Literasi Menarik Minat Membaca
Bagian literasi memuat cerita pendek, puisi, artikel singkat, fakta menarik, dan informasi pengetahuan umum. Konten dipilih dengan bahasa yang mudah dipahami serta tampilan yang ringkas agar siswa tertarik berhenti dan membaca. Tema dapat disesuaikan dengan pelajaran, peristiwa sekolah, atau isu yang dekat dengan kehidupan remaja. Variasi tersebut membuat pengalaman membaca tidak terasa monoton.
Siswa juga diberi kesempatan mengirimkan tulisan untuk dipublikasikan pada mading. Karya dapat berupa cerita, puisi, resensi, opini singkat, komik, atau poster edukatif. Kesempatan tampil di ruang publik sekolah menumbuhkan rasa percaya diri serta tanggung jawab terhadap kualitas tulisan. Budaya membaca berkembang bersama kebiasaan menulis dan mengekspresikan gagasan.
Guru membimbing proses pemilihan materi agar isi mading tetap akurat, pantas, dan sesuai tujuan pendidikan. Siswa dilatih memeriksa ejaan, memahami sumber informasi, dan menyusun kalimat secara runtut. Proses penyuntingan menjadi bagian dari pembelajaran literasi yang nyata. Setiap karya yang dipajang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa tumbuh melalui latihan dan perbaikan.
Pojok Numerasi Hadirkan Tantangan Angka
CERMAH menyediakan bagian numerasi yang berisi soal matematika sederhana, teka-teki angka, permainan logika, dan masalah sehari-hari. Pertanyaan dirancang singkat agar dapat dibaca dan diselesaikan ketika siswa melewati mading. Tantangan dapat diperbarui sesuai tingkat kesulitan dan materi yang sedang dipelajari di kelas. Cara tersebut membuat numerasi hadir dalam suasana yang lebih ringan dan tidak menegangkan.
Siswa dapat menuliskan jawaban pada kertas yang telah disediakan atau menyerahkannya kepada tim pengelola. Jawaban terpilih kemudian dibahas atau ditampilkan pada edisi berikutnya. Mekanisme ini memberi umpan balik serta mendorong peserta didik kembali melihat pembaruan mading. Interaksi sederhana tersebut membuat pembelajaran angka berlangsung secara berkelanjutan.
Soal numerasi tidak hanya berisi operasi hitung, tetapi juga mengajak siswa membaca data, mengenali pola, dan mengambil keputusan. Konten dapat mengangkat contoh belanja, waktu, jarak, perbandingan, atau informasi berbasis angka. Keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari membantu siswa memahami fungsi numerasi secara lebih nyata. Kemampuan berpikir logis dan analitis pun diasah melalui tantangan yang kontekstual.
Siswa Menjadi Pengelola dan Kontributor
Pengelolaan CERMAH melibatkan siswa melalui pembagian tugas yang jelas. Ada tim penulis, tim desain, tim penata mading, dan tim yang mengumpulkan bahan numerasi. Setiap anggota bekerja sesuai perannya sebelum seluruh konten disatukan dalam satu edisi. Model ini melatih kolaborasi, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola pekerjaan.
Siswa tidak hanya menerima arahan, tetapi ikut menentukan tema serta bentuk rubrik yang akan ditampilkan. Mereka berdiskusi mengenai konten yang menarik bagi teman sebaya dan mudah dipahami. Keputusan tersebut membuat mading terasa sebagai milik bersama, bukan hanya proyek guru. Rasa memiliki mendorong keterlibatan dan kepedulian terhadap keberlanjutan program.
Karya yang masuk diseleksi berdasarkan kesesuaian tema, kejelasan informasi, dan nilai edukatifnya. Guru tetap berperan mendampingi agar proses publikasi berjalan tertib dan bertanggung jawab. Siswa belajar menerima masukan ketika tulisannya perlu diperbaiki sebelum dipajang. Pengalaman ini memperkuat keterampilan komunikasi serta kesiapan bekerja dalam tim.
Teknologi Memperkuat Desain dan Akses
Perangkat komputer, laptop, dan telepon pintar digunakan untuk mencari informasi serta menyusun desain konten. Siswa dapat memakai aplikasi pengolah kata atau desain sederhana untuk membuat poster, infografis, dan teka-teki. Hasil digital kemudian dicetak dan ditata pada mading agar tampil lebih rapi serta menarik. Teknologi membantu proses produksi tanpa menghilangkan fungsi utama mading sebagai media fisik.
Kode QR dapat ditambahkan pada bagian tertentu untuk menghubungkan mading dengan sumber belajar digital. Siswa dapat memindainya untuk membuka video pembelajaran, artikel tambahan, atau latihan daring. Integrasi tersebut membuat mading tidak berhenti sebagai media statis. Pembaca memperoleh pilihan untuk memperdalam materi melalui perangkat yang tersedia.
Konten Diperbarui Secara Berkala
CERMAH dirancang agar dapat diperbarui dalam waktu relatif singkat tanpa memerlukan biaya besar. Sekolah memanfaatkan papan mading dan bahan yang telah tersedia sebagai sarana utama. Cerita, puisi, soal, dan karya siswa dapat diganti sesuai tema baru setiap periode. Pembaruan rutin menjaga perhatian siswa dan mencegah mading menjadi pajangan yang tidak lagi dibaca.
Tahap pelaksanaan dimulai dengan perencanaan tujuan, pembagian rubrik, dan penyusunan jadwal. Guru bersama siswa kemudian mengumpulkan materi, membuat desain, serta menyeleksi karya yang akan dipajang. Setelah publikasi, penggunaan mading dipantau untuk melihat respons dan partisipasi siswa. Hasil pengamatan menjadi bahan penyempurnaan edisi berikutnya.
Dikembangkan sejak Juli 2025
Dokumen inovasi mencatat tahap identifikasi masalah dimulai pada minggu ketiga Juli 2025. Guru dan tim mading mengamati minat baca, kemampuan literasi, numerasi, serta ketersediaan media belajar. Hasil observasi dan analisis pembelajaran menjadi dasar penyusunan tujuan CERMAH. Tahap awal tersebut memastikan program menjawab kebutuhan yang nyata.
Perancangan konsep dan desain dilakukan sejak minggu keempat Juli hingga minggu pertama Agustus 2025. Pengumpulan materi dan pembuatan konten berlangsung pada minggu kedua hingga ketiga Agustus. Pemasangan serta publikasi mading dilakukan sejak minggu keempat Agustus hingga minggu kedua September. Rangkaian yang terstruktur membuat inovasi dapat diterapkan dalam waktu relatif cepat.
Monitoring, evaluasi, dan penyempurnaan mulai dilakukan pada minggu ketiga September 2025. Tim melihat tingkat kunjungan, partisipasi siswa, serta respons terhadap rubrik yang tersedia. Konten dan tata letak diperbaiki berdasarkan hasil pemantauan tersebut. Evaluasi menjadi dasar agar CERMAH terus relevan dan berkelanjutan.
Membangun Sekolah yang Literat dan Kreatif
Bagi siswa, CERMAH memperluas kosakata, meningkatkan pemahaman bacaan, dan melatih pemecahan masalah angka. Kegiatan menulis serta mendesain juga mengembangkan kreativitas dan rasa percaya diri. Bagi guru, mading menjadi media alternatif untuk menyampaikan materi secara kontekstual. Bagi sekolah, program memperkuat budaya literasi dan numerasi secara berkelanjutan.
Keunggulan CERMAH terletak pada penggunaan media yang sederhana, mudah diakses, dan dapat berkembang sesuai kebutuhan. Program tidak bergantung pada fasilitas mahal karena memanfaatkan ruang yang telah tersedia. Keterlibatan siswa membuat setiap pembaruan memiliki gagasan dan tampilan yang berbeda. Mading pun menjadi ruang belajar yang hidup dan inspiratif.
Melalui CERMAH, SMP Negeri 2 Ulu Musi memperluas fungsi majalah dinding. Mading menjadi ruang membaca, berhitung, berkarya, dan berdiskusi. Program berjalan melalui pembaruan konten dan pendampingan guru. CERMAH diharapkan menginspirasi sekolah lain.