EMPAT LAWANG — SD Negeri 5 Sikap Dalam mengembangkan BANTU DIGI sebagai pembelajaran PJOK berbasis proyek. Siswa diajak membuat alat olahraga dari bahan sederhana, menguji kelayakannya, dan mengemas proses tersebut menjadi konten digital yang edukatif.
Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan membutuhkan alat bantu agar materi gerak dapat dipahami dan dipraktikkan dengan lebih baik. Namun, sekolah di wilayah pedesaan tidak selalu memiliki sarana olahraga yang lengkap. Keterbatasan tersebut dapat membuat kegiatan PJOK kurang bervariasi apabila tidak diikuti kreativitas guru dan siswa.
SD Negeri 5 Sikap Dalam, Kecamatan Sikap Dalam, berada di wilayah agraris di sekitar aliran Sungai Musi. Sekolah kemudian mengembangkan BANTU DIGI, singkatan dari Membuat Alat Bantu Sederhana dalam Pembelajaran di Era Media Digital. Program ini menjadikan keterbatasan fasilitas sebagai peluang untuk berkreasi dan menghasilkan media belajar sendiri.

Dari Bahan Bekas Menjadi Alat Olahraga
Melalui BANTU DIGI, siswa bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi materi PJOK yang membutuhkan alat bantu. Mereka kemudian memilih bahan sederhana atau barang bekas yang tersedia di sekolah dan rumah. Bahan tersebut dirancang menjadi alat yang fungsional, aman, murah, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.Contoh alat yang dikembangkan antara lain bola isi untuk latihan tolak peluru dari bola plastik bekas, rintangan lari dari botol, tongkat estafet dari kayu bekas, dan alat pemukul bola kasti. Sebelum digunakan, setiap alat diperiksa kekuatan, stabilitas, kenyamanan, dan keamanannya melalui uji coba bersama guru.Pengerjaan proyek dibagi ke dalam beberapa peran, seperti perancang alat, penanggung jawab bahan, perakit, pengawas keamanan, penulis naskah, dan tim dokumentasi. Pembagian tersebut melatih komunikasi, koordinasi, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Siswa belajar bahwa hasil akhir ditentukan oleh kontribusi seluruh anggota kelompok.Model pembelajaran berbasis proyek membuat siswa tidak hanya menerima penjelasan. Mereka mengamati kebutuhan, merancang solusi, membuat produk, melakukan uji coba, dan memperbaiki kekurangan. Proses tersebut mengembangkan keterampilan motorik sekaligus kreativitas, pemikiran kritis, dan kepemimpinan murid.
Proses Karya Diubah Menjadi Konten Digital
Kebaruan BANTU DIGI terletak pada integrasi aktivitas fisik, pembuatan alat, dan literasi digital. Setelah alat selesai, siswa mendokumentasikan proses pembuatan dan cara penggunaannya dalam bentuk video tutorial, poster edukatif, presentasi, atau modul digital. Konten disusun secara sistematis agar mudah dipahami oleh siswa lain.Gawai digunakan untuk merekam gambar dan suara, sedangkan aplikasi sederhana dimanfaatkan untuk menyunting video. Siswa belajar menyusun naskah, berbicara di depan kamera, memilih sudut pengambilan gambar, dan menyajikan informasi secara jelas. Guru mendampingi agar penggunaan teknologi tetap positif, aman, dan bertanggung jawab.Hasil karya dapat ditampilkan di kelas atau dipublikasikan melalui media sosial sekolah, seperti YouTube, Instagram, dan Facebook. Publikasi memberi ruang apresiasi sekaligus menjadi media berbagi praktik baik. Orang tua dan masyarakat juga dapat melihat kreativitas siswa serta perkembangan pembelajaran di sekolah.
Dirancang melalui Lima Tahap
Proses inovasi dimulai pada minggu pertama Desember 2023 melalui observasi kebutuhan pembelajaran dan pemetaan keterbatasan alat. Pada tahap perencanaan, setiap kelompok menentukan jenis alat, bahan, pembagian tugas, jadwal kerja, serta konsep video yang akan dibuat.Pembuatan alat berlangsung pada minggu kedua hingga keempat Desember 2023. Siswa merakit, memeriksa, dan menguji fungsi alat sambil merekam setiap tahapan sebagai bahan konten. Dokumentasi dan implementasi dilaksanakan pada minggu pertama Januari 2024, dilanjutkan evaluasi serta penyempurnaan pada minggu kedua Januari.BANTU DIGI menunjukkan bahwa pembelajaran berkualitas tidak selalu bergantung pada peralatan mahal. Dengan bahan yang tersedia, kerja kelompok, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, siswa dapat menghasilkan alat bantu yang bermanfaat serta konten edukatif. Inovasi ini diharapkan terus dikembangkan untuk materi PJOK lainnya.Sumber: BANTU DIGI (Membuat Alat Bantu Sederhana dalam Pembelajaran di Era Media Digital) Tahun 2025, SD Negeri 5 Sikap Dalam, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang.