
Bekasi – UPTD Puskesmas Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, mengembangkan inovasi MAS SAJI (Mari Sayangi Sakit Jiwa) untuk memperkuat pelayanan kesehatan jiwa yang terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan. Inovasi ini lahir dari masih rendahnya cakupan deteksi dini gangguan jiwa, terbatasnya kelompok masyarakat peduli kesehatan jiwa, serta kuatnya stigma yang membuat sebagian keluarga menunda membawa anggota keluarganya untuk memperoleh pengobatan. Pada 2022, wilayah kerja Puskesmas Telaga Murni mencatat 88 pasien dengan gangguan jiwa berat, sementara target standar pelayanan minimal disebut mencapai 184 orang. Pada tahun yang sama, masih terdapat sembilan ODGJ yang mengalami pemasungan sehingga diperlukan pendekatan pelayanan yang lebih aktif dan dekat dengan masyarakat.
MAS SAJI dirancang tidak hanya mengandalkan pelayanan di dalam gedung puskesmas, tetapi juga bergerak ke lingkungan tempat pasien dan keluarga tinggal. Di dalam puskesmas, pelayanan dilakukan melalui ruang konseling yang terhubung dengan poli umum, poli lansia, dan poli KIA sehingga pasien dengan masalah kesehatan jiwa dapat memperoleh konseling secara lebih terarah. Di luar gedung, kegiatan melibatkan program kesehatan lain, kader kesehatan jiwa, konselor sebaya remaja, aparat desa, tokoh masyarakat, serta perangkat wilayah untuk membantu menemukan dan memantau pasien. Pendekatan tersebut memungkinkan masalah kesehatan jiwa ditangani sebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan individu atau keluarga.
Salah satu fokus utama MAS SAJI adalah mendorong penanganan ODGJ yang terlantar atau dipasung melalui mekanisme pelaporan, investigasi, pengobatan, dan rujukan. Kader dan perangkat desa berkoordinasi dengan Puskesmas Telaga Murni ketika menemukan warga yang membutuhkan penanganan, kemudian tim kesehatan melakukan kunjungan dan pemeriksaan langsung. Pasien dengan kondisi gaduh gelisah atau membutuhkan perawatan lebih lanjut dapat dirujuk ke rumah sakit jiwa, sedangkan pasien yang telah stabil dilanjutkan pengobatannya di rumah dengan pemantauan keluarga, kader, dan petugas. Kunjungan rutin juga dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pengobatan dan memastikan obat tetap dikonsumsi sesuai arahan tenaga kesehatan.
Pelibatan keluarga menjadi bagian penting karena keberhasilan pemulihan tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga dukungan lingkungan terdekat pasien. Keluarga diarahkan untuk menjadi pengawas minum obat sekaligus mitra dalam memantau perubahan kondisi pasien dari waktu ke waktu. Bagi pasien dengan keterbatasan ekonomi, pendekatan kunjungan rumah membantu mengurangi hambatan biaya transportasi untuk datang ke puskesmas atau fasilitas rujukan. Setelah kondisi pasien membaik, MAS SAJI juga mendorong pemberdayaan melalui dukungan aparat desa dan karang taruna agar proses pemulihan dapat berlanjut secara sosial dan produktif.
Dampak pelaksanaan inovasi terlihat dari menurunnya jumlah ODGJ terlantar atau dipasung di wilayah Puskesmas Telaga Murni. Data dalam proposal mencatat jumlah kasus pasung menurun dari sembilan orang pada 2022 menjadi tujuh orang pada 2023 dan tinggal satu orang pada awal 2024. Pada saat yang sama, cakupan pelayanan ODGJ berat disebut meningkat dari 71 orang pada 2021 menjadi 88 orang pada 2024. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa penguatan deteksi, kunjungan lapangan, koordinasi lintas sektor, dan kesinambungan pengobatan memberi kontribusi nyata terhadap perluasan pelayanan kesehatan jiwa.
Keberlanjutan MAS SAJI ditopang oleh kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Puskesmas Telaga Murni, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, perangkat desa dan kecamatan, kader, serta unsur masyarakat. Tim melakukan rapat koordinasi dan konsultasi secara berkala untuk menindaklanjuti laporan kasus, memantau pengobatan, sekaligus mengevaluasi kebutuhan pelayanan. Monitoring juga dilakukan melalui pencatatan data kesehatan jiwa sehingga jumlah pasien yang berhasil ditangani dapat diketahui dan menjadi dasar perbaikan program. Dukungan Bantuan Operasional Kesehatan menjadi salah satu sumber pembiayaan pelaksanaan program kesehatan jiwa yang mendukung jalannya inovasi ini.
Melalui MAS SAJI, Puskesmas Telaga Murni berupaya membangun pelayanan kesehatan jiwa yang lebih manusiawi, mudah dijangkau, dan tidak terputus setelah pasien kembali ke rumah. Inovasi ini menempatkan pasien, keluarga, kader, petugas kesehatan, dan pemerintah setempat dalam satu jejaring pelayanan yang saling mendukung. Upaya mengurangi pemasungan juga berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran bahwa gangguan jiwa membutuhkan penanganan medis, dukungan sosial, serta pemantauan yang berkelanjutan. Dengan konsistensi pelayanan dan keterlibatan lintas sektor, MAS SAJI diharapkan terus memperkuat perlindungan dan pemulihan kesehatan jiwa masyarakat Kabupaten Bekasi.