GEMA SI PEPES Dorong ASI Eksklusif untuk Cegah Stunting di Setiamulya

Bekasi – UPTD Puskesmas Setiamulya mengembangkan inovasi GEMA SI PEPES (Gerakan Bersama Bersinergi Peduli Penanganan Stunting) sebagai upaya memperkuat pencegahan stunting melalui peningkatan praktik pemberian ASI eksklusif. Program ini lahir dari perhatian terhadap masalah gizi anak dan masih rendahnya cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja puskesmas dibandingkan target indikator kinerja. Pada 2022, cakupan ASI eksklusif tercatat 61,7 persen dan meningkat menjadi 69,8 persen pada 2023, sementara target yang ditetapkan sebesar 75 persen. Melalui pendekatan kolaboratif, GEMA SI PEPES berupaya memutus mata rantai risiko stunting sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak.

Fokus utama inovasi diarahkan pada edukasi ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Petugas kesehatan bersama kader posyandu melakukan penyuluhan tentang ASI eksklusif, gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, serta perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan diseminasi informasi dilakukan melalui road show ke posyandu di desa-desa wilayah kerja Puskesmas Setiamulya dengan melibatkan lintas program seperti promosi kesehatan dan kesehatan lingkungan. Semakin luas pengetahuan masyarakat mengenai ASI dan gizi seimbang, semakin besar peluang mencegah gangguan pertumbuhan sejak dini.

GEMA SI PEPES tidak hanya menyasar ibu dan balita, tetapi juga memperkuat kapasitas kader sebagai penghubung antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Kader mendapatkan pembekalan agar mampu menyampaikan informasi kesehatan dengan benar sekaligus melakukan pengukuran antropometri secara lebih teliti. Ketepatan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan menjadi penting karena hasil pengukuran menentukan status gizi anak dan tindak lanjut pelayanan. Dengan kader yang lebih terampil, pemantauan pertumbuhan balita di posyandu diharapkan menjadi lebih akurat dan konsisten.

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan motivasi keluarga adalah pemberian penghargaan kepada bayi yang berhasil mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan. Bayi yang memenuhi kriteria harus hanya mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain selain obat, tercatat aktif di posyandu, rutin dipantau pertumbuhan dan perkembangannya, serta mengikuti imunisasi sesuai jadwal. Penghargaan tersebut diwujudkan melalui Sertifikat Lulus ASI Eksklusif sebagai bentuk apresiasi atas komitmen ibu dan keluarga. Skema ini diharapkan dapat membangun kebanggaan sekaligus mendorong keluarga lain untuk mempertahankan pemberian ASI eksklusif.

Pelaksanaan GEMA SI PEPES juga menghadapi sejumlah tantangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebagian ibu masih mempercayai mitos mengenai larangan makanan tertentu, sementara ada pula orang tua yang merasa ASI tidak mencukupi sehingga memberikan susu formula lebih awal. Ibu menyusui yang bekerja juga dapat mengalami kesulitan mempertahankan pemberian ASI, sedangkan sebagian keluarga masih enggan datang ke posyandu ketika anak mengalami masalah gizi. Karena itu, konseling, dukungan keluarga, dan pendampingan kader menjadi bagian penting agar perubahan perilaku dapat berlangsung secara bertahap.

Program ini melibatkan kepala puskesmas, petugas gizi, dokter, bidan, kader, tokoh masyarakat, dokter dan bidan praktik swasta, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi. Koordinasi lintas sektor dilakukan antara lain melalui forum minggon desa agar pesan pencegahan stunting dapat diteruskan kepada masyarakat secara lebih luas. Penerima manfaatnya mencakup ibu hamil, bayi, balita sehat, serta keluarga yang memiliki risiko stunting. Pendekatan bersama ini menempatkan pencegahan stunting sebagai tanggung jawab kolektif, bukan hanya urusan tenaga kesehatan.

Melalui GEMA SI PEPES, Puskesmas Setiamulya menargetkan meningkatnya cakupan ASI eksklusif, bertambahnya kunjungan balita ke posyandu, meningkatnya pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang, serta menurunnya prevalensi stunting. Monitoring dilakukan melalui pengumpulan data rutin dari bidan mengenai konsumsi ASI eksklusif pada bayi usia 0–5 bulan dan bayi usia enam bulan. Program ini juga mendukung pemantauan status gizi balita dan intervensi kesehatan ibu-anak secara lebih terarah. Dengan edukasi yang berkesinambungan dan keterlibatan masyarakat, GEMA SI PEPES diharapkan menjadi penggerak lahirnya generasi Kabupaten Bekasi yang lebih sehat, kuat, dan bebas stunting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *