Kelurahan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, menghadirkan UPETI BACA atau Upaya Peningkatan Prima Melalui Pojok Baca sebagai inovasi pelayanan publik yang memadukan kenyamanan layanan dengan penguatan literasi masyarakat. Inovasi yang diinisiasi Nurhasanah, S.IP ini menempatkan rak dan bahan bacaan di ruang pelayanan agar warga memiliki aktivitas yang bermanfaat selama menunggu. Kehadirannya tidak hanya dimaksudkan untuk melengkapi fasilitas kantor kelurahan, tetapi juga memberi nilai tambah edukatif dalam proses pelayanan sehari-hari. UPETI BACA tercatat memasuki tahap implementasi setelah melalui uji coba pada 27 April 2023 dan mulai diterapkan pada 19 Agustus 2024.
Gagasan UPETI BACA berangkat dari kondisi pelayanan yang menghadirkan waktu tunggu cukup panjang bagi sebagian masyarakat. Berdasarkan proposal inovasi, Kelurahan Tanjung Palas Tengah menerima sekitar 5 hingga 10 pengunjung per hari atau sekitar 80 sampai 100 pengunjung setiap bulan untuk berbagai kebutuhan administrasi. Waktu tunggu pelayanan berkisar 15 hingga 30 menit per orang, bergantung pada jenis layanan yang sedang diproses. Pada kondisi sebelumnya, sebagian warga hanya duduk tanpa aktivitas produktif sehingga mudah mengalami kejenuhan dan ketidaknyamanan.
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah terbatasnya akses bahan bacaan yang mudah dijangkau masyarakat di ruang publik. Proposal mencatat minat baca di lingkungan masyarakat masih perlu diperkuat, sementara fasilitas pelayanan kelurahan sebelumnya lebih berfokus pada urusan administratif. Kondisi tersebut membuat waktu luang selama menunggu belum dimanfaatkan sebagai ruang belajar atau menambah wawasan. UPETI BACA kemudian dirancang untuk menjembatani kebutuhan pelayanan yang nyaman dengan upaya menumbuhkan kebiasaan membaca.
Melalui inovasi ini, ruang tunggu pelayanan diubah menjadi area yang lebih edukatif dengan kehadiran pojok baca yang dapat digunakan secara gratis. Masyarakat dapat mengambil bahan bacaan yang tersedia sembari menunggu proses administrasi diselesaikan oleh petugas. Konsep tersebut menjadikan waktu tunggu yang sebelumnya pasif menjadi kesempatan untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Pendekatan sederhana ini juga membuat pelayanan terasa lebih humanis karena warga mendapatkan pengalaman yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian dokumen.
UPETI BACA dikembangkan sebagai inovasi berbiaya rendah yang mudah diterapkan pada ruang pelayanan publik. Keunggulannya terletak pada pemanfaatan fasilitas sederhana untuk menghasilkan nilai tambah tanpa memerlukan perubahan besar pada proses administrasi. Selain meningkatkan akses membaca, inovasi ini diarahkan untuk mengurangi kejenuhan dan memperbaiki persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan. Model serupa dinilai mudah direplikasi karena tidak membutuhkan infrastruktur rumit dan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap unit layanan.
Pelaksanaan UPETI BACA dimulai dari identifikasi masalah pelayanan, penyusunan konsep, dan koordinasi internal di lingkungan kelurahan. Tahap berikutnya dilakukan dengan menyediakan sarana pojok baca, menata ruang pelayanan, serta menyosialisasikan fasilitas tersebut kepada masyarakat. Pemanfaatannya kemudian dipantau melalui pengumpulan data kepuasan masyarakat dan evaluasi penggunaan pojok baca. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk melakukan perbaikan berkelanjutan agar fasilitas tetap relevan dengan kebutuhan pengguna layanan.
Dampak awal inovasi terlihat dari pemanfaatan pojok baca oleh masyarakat saat menunggu pelayanan. Proposal mencatat sekitar 60 sampai 80 persen pengunjung memanfaatkan fasilitas tersebut, disertai penurunan keluhan terkait waktu tunggu. Indeks Kepuasan Masyarakat juga disebut meningkat dari kategori Baik menjadi Sangat Baik setelah inovasi berjalan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pengalaman pelayanan dapat dilakukan melalui intervensi yang sederhana tetapi langsung menyentuh kebutuhan warga.
Manfaat UPETI BACA tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga oleh instansi pelayanan. Bagi warga, fasilitas membaca gratis membantu mengurangi kejenuhan, menambah pengetahuan, dan menjadikan waktu tunggu lebih produktif. Bagi kelurahan, keberadaan pojok baca mendukung citra pelayanan publik yang lebih ramah, edukatif, dan berorientasi pada kepuasan pengguna. Pada tingkat pemerintah daerah, inovasi ini juga mendukung program literasi sekaligus menjadi contoh pembaruan pelayanan yang mudah direplikasi.
UPETI BACA turut menegaskan bahwa penguatan literasi dapat dilakukan di luar ruang perpustakaan atau sekolah. Kantor kelurahan yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat dapat menjadi titik baru untuk mendekatkan bahan bacaan kepada warga. Strategi ini sejalan dengan upaya menciptakan pelayanan publik yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberi pengalaman yang nyaman dan bermanfaat. Dengan cara itu, layanan administrasi dan pembudayaan literasi dapat berjalan bersamaan dalam satu ruang yang sama.
Melalui UPETI BACA, Kelurahan Tanjung Palas Tengah mencoba membangun pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Pojok baca menjadi simbol bahwa waktu tunggu tidak harus identik dengan kejenuhan, tetapi dapat diubah menjadi kesempatan untuk membaca dan belajar. Inovasi ini menunjukkan bahwa pembaruan pelayanan publik tidak selalu harus hadir melalui teknologi yang kompleks atau investasi besar. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca persoalan warga dan menghadirkan solusi sederhana yang dapat langsung dirasakan manfaatnya.