PATRAS, SDN 7 Muara Pinang Hidupkan Pembelajaran Herbal dari Taman Sekolah

EMPAT LAWANG — SDN 7 Muara Pinang mengembangkan PATRAS, kependekan dari Penanaman dan Pemanfaatan Tanaman Obat Herbal di Sekolah, sebagai inovasi pembelajaran berbasis lingkungan. Program ini mengajak seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengenal tanaman herbal melalui kegiatan menanam dan merawat secara langsung. Jahe, kunyit, temulawak, daun sirih, dan lidah buaya dipilih karena mudah dibudidayakan serta dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut sekaligus mengubah lahan sekolah menjadi ruang belajar yang hijau, sehat, dan edukatif.

PATRAS berangkat dari kekhawatiran terhadap semakin berkurangnya pengetahuan anak mengenai tanaman obat tradisional Indonesia. Perkembangan teknologi dan gaya hidup praktis membuat sebagian anak lebih mengenal obat modern daripada bahan herbal yang tumbuh di sekitarnya. Padahal, pengetahuan mengenai tanaman obat telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kekayaan hayati nasional. Sekolah kemudian mengambil peran untuk memperkenalkan kembali pengetahuan tersebut melalui pembelajaran yang sederhana dan kontekstual.

Program ini mengusung pendekatan learning by doing agar siswa tidak hanya menerima penjelasan di dalam kelas. Mereka terlibat dalam menyiapkan lahan, mengenali bibit, memahami cara penanaman, dan mengamati pertumbuhan tanaman. Pengalaman langsung membuat materi Ilmu Pengetahuan Alam dan pendidikan lingkungan lebih mudah dipahami. Pada saat yang sama, siswa dilatih bekerja sama, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka rawat.

Dari Persiapan hingga Perawatan

Pelaksanaan PATRAS diawali dengan koordinasi sekolah untuk menentukan lokasi tanam dan menyiapkan kebutuhan kegiatan. Bibit herbal, tanah, pupuk, polybag, sekop, cangkul kecil, alat penyiram, dan papan nama tanaman disiapkan sebelum siswa turun ke lapangan. Guru memberikan penyuluhan singkat mengenai jenis tanaman serta manfaat yang tercantum dalam rencana program. Tahap persiapan ini memastikan kegiatan dapat berlangsung terarah, aman, dan sesuai usia peserta didik.

Setelah demonstrasi cara menanam, siswa bersama guru menempatkan bibit pada lahan atau wadah yang telah disiapkan. Setiap tanaman diberi papan nama agar siswa dapat menghubungkan bentuk tanaman dengan identitas dan kegunaannya. Pemberian label membuat taman tidak sekadar menjadi area hijau, melainkan media informasi yang dapat dibaca setiap hari. Cara tersebut membantu siswa mengingat materi melalui pengamatan yang berulang.

Perawatan dilakukan secara bergilir melalui kegiatan menyiram, membersihkan gulma, dan memberikan pupuk secara berkala. Jadwal kegiatan utama direncanakan setiap Jumat dan Sabtu pada pukul 08.00 hingga 10.00 di halaman atau lahan kosong sekolah. Pembagian tugas memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menjaga komitmen terhadap pekerjaan bersama. Guru dan staf sekolah tetap mendampingi agar tanaman tumbuh baik dan kegiatan berjalan tertib.

Mengenal Manfaat Tanaman

Tanaman yang dipilih memiliki fungsi yang mudah dijelaskan kepada anak dalam konteks kesehatan sehari-hari. Jahe diperkenalkan sebagai tanaman yang dapat menghangatkan tubuh, sedangkan kunyit dikaitkan dengan pemeliharaan kesehatan pencernaan. Temulawak dikenalkan karena dapat membantu meningkatkan nafsu makan dan daun sirih memiliki sifat antiseptik alami. Lidah buaya melengkapi taman karena dikenal bermanfaat bagi perawatan kulit dan rambut.

Hasil tanaman nantinya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan edukatif, termasuk pengenalan cara membuat minuman herbal sederhana. Praktik tersebut memberi gambaran kepada siswa bahwa tanaman di sekitar dapat memiliki kegunaan nyata. Pemanfaatan tetap ditempatkan sebagai bagian dari pembelajaran yang didampingi guru. Dengan demikian, siswa memperoleh pemahaman mengenai proses tanaman dari penanaman hingga penggunaan secara bertanggung jawab.

Taman Herbal yang Berkelanjutan

Manfaat PATRAS tidak berhenti pada peningkatan wawasan mengenai tanaman obat. Program ini juga memanfaatkan lahan kosong agar lebih produktif sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang asri dan sejuk. Kehadiran tanaman mendukung upaya sekolah membangun budaya hidup bersih, sehat, dan peduli lingkungan. Taman herbal dapat digunakan sebagai sarana belajar luar kelas bagi berbagai jenjang dan mata pelajaran.

Pertumbuhan tanaman akan dievaluasi setiap bulan melalui pengamatan bersama dan diskusi hasil pembelajaran. Evaluasi membantu sekolah mengetahui tanaman yang tumbuh baik, bagian perawatan yang perlu diperbaiki, dan pemahaman yang telah diperoleh siswa. Komite sekolah serta orang tua juga dapat dilibatkan untuk memperkuat dukungan dan keberlanjutan kegiatan. Kolaborasi tersebut membuka peluang agar kebiasaan menanam tanaman herbal ikut diterapkan di lingkungan rumah.

Melalui PATRAS, SDN 7 Muara Pinang menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat dimulai dari sumber daya yang tersedia di sekitar sekolah. Tanaman yang sederhana diolah menjadi media untuk belajar ilmu pengetahuan, karakter, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. Program ini diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi siswa, sekolah, dan lingkungan sekitar. PATRAS pun menempatkan taman sekolah sebagai ruang tumbuh bagi tanaman sekaligus pengetahuan.

Sumber bahan berita: PATRAS, SDN 7 Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang, Tahun 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *