
EMPAT LAWANG — SMP Negeri 2 Talang Padang mengembangkan MatA Empat Lawang untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual. Bahan ajar dan LKPD menggunakan budaya serta kehidupan lokal sebagai dasar persoalan, sehingga siswa dapat belajar numerasi sekaligus mengenali identitas daerahnya.
Literasi matematika menjadi kemampuan penting karena membantu siswa memahami informasi, menalar, dan mengambil keputusan logis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, capaian numerasi di SMP Negeri 2 Talang Padang masih berada pada kategori sedang. Terdapat 50 persen peserta didik mencapai kompetensi minimum meskipun meningkat 22,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu tantangan pembelajaran adalah penggunaan contoh soal yang masih bersifat umum dan jauh dari lingkungan siswa. Konsep matematika akhirnya dipahami sebagai kumpulan prosedur, bukan alat untuk membaca situasi nyata. Kondisi tersebut mendorong pengembangan MatA Empat Lawang atau Matematika, Aku, dan Empat Lawang.

Kearifan Lokal Menjadi Konteks Soal
MatA Empat Lawang dikembangkan dalam bentuk bahan ajar dan Lembar Kerja Peserta Didik. Permasalahan matematika disusun dengan mengambil konteks kehidupan, budaya, dan lingkungan lokal Kabupaten Empat Lawang. Siswa tidak hanya diminta menghitung, tetapi membaca situasi, memilih informasi, menyusun strategi, dan menjelaskan alasan penyelesaian.
Konteks lokal digunakan sebagai kerangka utama, bukan sekadar hiasan pada soal. Objek yang dekat dengan kehidupan siswa membantu menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman konkret. Pada dokumentasi pembelajaran, materi bilangan bulat ditampilkan melalui konteks lempok durian, salah satu produk yang dikenal masyarakat daerah.
Siswa menggunakan LKPD untuk berdiskusi dan memecahkan masalah secara berkelompok. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses penalaran, bukan hanya memberikan rumus dan jawaban. Cara ini membantu peserta didik melatih kemampuan membaca masalah, membuat model matematika, serta mengkomunikasikan hasilnya.
Pembelajaran berbasis konteks juga menumbuhkan kesadaran bahwa matematika hadir dalam aktivitas masyarakat. Pola, ukuran, jumlah, perbandingan, dan data dapat ditemukan dalam produk, tradisi, dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, siswa belajar matematika sekaligus mengenali nilai dan identitas lokal Empat Lawang.
Canva dan Platform Digital Perkuat LKPD
Kebaruan MatA Empat Lawang terletak pada perpaduan kearifan lokal dan teknologi digital. Bahan ajar dirancang menggunakan Canva agar tampilannya komunikatif, menarik, dan mudah dipahami. Penyusunan ilustrasi serta penyempurnaan konten turut didukung teknologi kecerdasan buatan untuk membantu proses pengembangan secara lebih efisien.
Produk disusun dalam bentuk template yang dapat dimodifikasi guru lain. Materi, ilustrasi, dan konteks soal dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa maupun kondisi sekolah. Bahan ajar juga dapat digunakan dalam bentuk cetak atau diakses melalui Google Classroom, Canva Class, dan media berbasis web menggunakan telepon pintar.
Fleksibilitas tersebut membuat inovasi dapat diterapkan dalam pembelajaran tatap muka, daring, maupun gabungan. Bagi siswa, media ini mendukung motivasi, keterlibatan, pemahaman konsep, dan kesiapan menghadapi soal kontekstual seperti AKM. Bagi sekolah, MatA Empat Lawang menjadi praktik baik untuk memperkuat indikator numerasi pada rapor pendidikan.
Dikembangkan dalam Waktu Tiga Bulan
Proses penciptaan inovasi dimulai pada minggu pertama Maret 2025 melalui identifikasi masalah pembelajaran matematika. Pada minggu berikutnya, guru merumuskan gagasan bahan ajar berbasis kearifan lokal dan mematangkan konsep inovasi. Tahap ini menentukan bentuk bahan ajar, struktur LKPD, materi, dan pemanfaatan teknologi yang akan digunakan.
Pengembangan bahan ajar berlangsung sejak akhir Maret hingga minggu kedua April 2025. Guru menyusun materi, contoh soal, aktivitas, dan LKPD, kemudian mengemasnya melalui desain digital. Pada minggu ketiga April, produk disusun menjadi template yang fleksibel, sedangkan minggu berikutnya digunakan untuk menyiapkan perangkat dan skenario pembelajaran.
MatA Empat Lawang mulai diimplementasikan pada Mei 2025. Siswa belajar melalui diskusi, pemecahan masalah kontekstual, serta pengaitan konsep matematika dengan kehidupan daerahnya. Evaluasi dilakukan melalui hasil belajar, observasi aktivitas, refleksi guru, dan masukan siswa sebagai dasar penyempurnaan materi, desain, serta strategi penerapan berikutnya.
Sumber: MatA Empat Lawang (Matematika, Aku, dan Empat Lawang – Inovasi LKPD Matematika untuk Menumbuhkan Kesadaran Identitas Lokal) Tahun 2025, SMP Negeri 2 Talang Padang, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang.