SIGITA BALITA, Home Care dan QR Code Perkuat Intervensi Gizi Balita di Salimbatu

KOLABORASI LAYANAN KESEHATAN - Koordinasi tenaga kesehatan dan aparatur menjadi bagian penting dalam penguatan pelayanan berbasis masyarakat di Kabupaten Bulungan. Foto: Dokumentasi pendukung Kabupaten Bulungan.

Puskesmas Salimbatu menghadirkan SIGITA BALITA (Sitem Intervensi Gizi Terpadu pada Balita) sebagai inovasi untuk memperkuat penanganan masalah gizi anak di wilayah kerjanya. Program yang diinisiasi Ribka ini memadukan pendekatan digital dan non digital, mulai dari kunjungan rumah hingga pencatatan berbasis QR code. SIGITA BALITA menjalani masa uji coba pada 15 April hingga 30 Juni 2025 sebelum memasuki tahap implementasi pada 1 Juli 2025. Inovasi tersebut diarahkan agar balita dengan stunting, wasting, dan underweight memperoleh intervensi yang lebih terarah serta pendampingan yang berkelanjutan.

Kebutuhan terhadap intervensi terpadu terlihat dari data gizi Puskesmas Salimbatu yang masih mencatat sejumlah balita dengan masalah pertumbuhan. Pada 2023, terdapat 59 kasus stunting, 31 kasus wasting, dan 73 kasus underweight di wilayah kerja puskesmas. Setahun kemudian, stunting turun menjadi 53 kasus dan underweight menjadi 67 kasus, sedangkan wasting tetap berada pada 31 kasus. Kondisi itu menunjukkan adanya perbaikan, tetapi juga menegaskan bahwa penanganan gizi perlu dilakukan secara konsisten hingga ke tingkat keluarga.

Pendekatan SIGITA BALITA menempatkan bidan desa dan kader kesehatan sebagai ujung tombak pemantauan di lapangan. Keduanya melakukan home care melalui kunjungan rutin ke rumah balita yang teridentifikasi mengalami masalah gizi. Keluarga menerima konseling mengenai pola makan, pemantauan tumbuh kembang, serta langkah intervensi yang perlu dijalankan sesuai kondisi anak. Dengan mendatangi rumah sasaran, layanan diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan di posyandu atau puskesmas, tetapi berlanjut dalam keseharian keluarga.

Teknologi digital digunakan untuk memperkuat pencatatan dan mempermudah akses informasi selama proses pendampingan. Hasil pemantauan dimasukkan melalui sistem berbasis QR code agar data lebih mudah dicatat, diakses, dan dianalisis oleh petugas. Kartu skor gizi juga ditempel di depan rumah balita sebagai pengingat bagi keluarga sekaligus penanda bagi kader saat melakukan pemantauan rutin. Melalui QR code yang sama, orang tua dapat memperoleh materi edukasi gizi dan menu Pemberian Makanan Tambahan yang disiapkan untuk mendukung perbaikan asupan anak.

Intervensi pangan menjadi bagian penting dari SIGITA BALITA karena perbaikan status gizi tidak cukup hanya dengan pemantauan. Kader dibekali keterampilan mengolah Pemberian Makanan Tambahan berbasis bahan lokal dengan komposisi gizi yang lebih seimbang. Proposal inovasi juga mencatat dukungan CSR PT PKN dalam penyediaan bahan pangan bergizi untuk membantu menjamin ketersediaan makanan tambahan bagi sasaran. Kolaborasi tersebut membuat program tidak hanya bertumpu pada tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan sumber daya masyarakat dan dunia usaha.

Tahap pelaksanaan dimulai dari identifikasi balita yang mengalami stunting, wasting, atau underweight berdasarkan data yang tersedia di puskesmas. Puskesmas bekerja bersama pemerintah desa, kader kesehatan, dan Dinas Kesehatan Kabupaten untuk menentukan sasaran intervensi serta kebutuhan pendampingan. Data keluarga berisiko kemudian menjadi dasar dalam mengatur kunjungan, konseling, pemberian makanan tambahan, dan pemantauan lanjutan. Pola berbasis data ini membuat intervensi lebih terarah kepada anak dan keluarga yang benar-benar membutuhkan dukungan.

Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap bulan dengan memanfaatkan data QR code serta laporan dari kader di lapangan. Hasil perkembangan status gizi dianalisis oleh puskesmas, kemudian dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai bahan supervisi dan penguatan kebijakan. Media sosial juga dimanfaatkan untuk menyebarkan edukasi gizi, menu makanan tambahan, dan informasi program kepada masyarakat. Mekanisme tersebut membuat pemantauan tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga sebagai sarana melihat respons intervensi dari waktu ke waktu.

Data dalam proposal mencatat tren penurunan masalah gizi setelah inovasi berjalan pada 2025. Jumlah kasus stunting menjadi 44, wasting turun menjadi 26, dan underweight menjadi 50 kasus. Dibandingkan kondisi 2023, penurunan paling besar terlihat pada underweight yang berkurang dari 73 menjadi 50 kasus, sementara stunting turun dari 59 menjadi 44 kasus. Angka tersebut berasal dari laporan bulanan Program Gizi Puskesmas Salimbatu yang dicantumkan dalam proposal inovasi, sehingga menjadi dasar evaluasi internal terhadap perkembangan sasaran.

SIGITA BALITA juga dibangun dalam kerangka kolaborasi yang lebih luas di Kabupaten Bulungan. Tokoh masyarakat dan tokoh agama dilibatkan untuk memperkuat penerimaan sosial, sedangkan PKK dan lembaga pendidikan membantu menyebarkan edukasi gizi seimbang dan memperkuat kapasitas kader. Pendekatan multipihak tersebut sejalan dengan strategi daerah yang mengandalkan posyandu, data keluarga berisiko, dan kerja sama lintas sektor dalam upaya menurunkan stunting. Dengan dukungan berbagai pihak, intervensi gizi diharapkan lebih mudah diterima keluarga dan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Bagi orang tua, program ini memberikan akses yang lebih dekat terhadap informasi mengenai pola makan seimbang, pedoman Isi Piringku, dan penyusunan menu sehat untuk balita. Bagi puskesmas, pengukuran antropometri serta pencatatan yang lebih sistematis membantu meningkatkan ketepatan data dan efisiensi pemantauan. Balita yang menunjukkan masalah gizi atau penyakit penyerta dapat lebih cepat dikenali untuk memperoleh tindak lanjut sesuai kebutuhan. Manfaat tersebut menempatkan keluarga sebagai mitra aktif, bukan sekadar penerima layanan kesehatan.

Penerapan SIGITA BALITA menunjukkan bahwa intervensi gizi dapat menggabungkan sentuhan langsung dan teknologi sederhana dalam satu alur pelayanan. Home care menjaga kedekatan petugas dengan keluarga, sementara QR code membantu pencatatan dan penyediaan materi edukasi yang dapat diakses kembali. Pemberian makanan tambahan berbasis bahan lokal memperkuat sisi intervensi, sedangkan monitoring bulanan menjaga program tetap terukur. Melalui kombinasi tersebut, Puskesmas Salimbatu berupaya memastikan penanganan stunting, wasting, dan underweight berjalan lebih terpadu dari rumah hingga sistem pelayanan kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *