
SERUI — Posyandu menjadi titik penting untuk memantau pertumbuhan, status gizi, imunisasi, dan perkembangan balita secara rutin. Namun, tidak semua orang tua dapat membawa anaknya hadir pada jadwal yang telah ditentukan. Ketika balita tidak datang, peluang untuk mendeteksi masalah pertumbuhan lebih awal ikut berkurang. GURITA dikembangkan Puskesmas Serui Kota agar pelayanan tidak berhenti hanya karena anak tidak hadir di Posyandu.
Data dalam proposal menunjukkan kunjungan balita ke Posyandu mencapai 806 pada Juli-Desember 2025 dan meningkat menjadi 838 pada Januari-Juni 2026. Pada periode yang sama, cakupan imunisasi balita juga meningkat dari 447 menjadi 659. Meski demikian, masih terdapat 884 balita yang tidak datang timbang pada 2026 sehingga memerlukan tindak lanjut melalui kunjungan rumah. Angka tersebut menjadi dasar perlunya sistem jemput bola yang lebih terstruktur.
“Balita yang tidak hadir di Posyandu tetap harus ditemukan agar tumbuh kembangnya tidak luput dari pemantauan.”
Kunjungan Rumah Dibuat Lebih Sistematis
Sebelum GURITA dikembangkan, petugas sebenarnya telah melakukan kunjungan rumah bagi balita yang tidak hadir di Posyandu. Namun, kegiatan tersebut belum memiliki mekanisme yang seragam mulai dari penetapan sasaran, penjadwalan, pencatatan, hingga evaluasi hasil. GURITA menyempurnakan pola tersebut menjadi sistem pelayanan yang lebih terukur dan terdokumentasi. Setiap sasaran ditentukan berdasarkan data balita yang tidak hadir pada kegiatan penimbangan.
Petugas kemudian menyusun jadwal kunjungan dan mendatangi keluarga sesuai prioritas. Di rumah, balita dapat ditimbang, diukur tinggi badannya, menjalani skrining tumbuh kembang, serta diperiksa status pelayanan kesehatannya. Orang tua juga menerima edukasi dan konseling gizi yang disesuaikan dengan kondisi anak. Hasil pelayanan dicatat dan dilaporkan sebagai dasar tindak lanjut berikutnya.
Pendekatan proaktif ini membuat balita tidak terlewat dari pemantauan hanya karena tidak hadir pada satu kegiatan Posyandu. Jika ditemukan tanda masalah pertumbuhan atau gizi, petugas dapat memberikan konseling, merencanakan pemeriksaan lanjutan, atau mengarahkan keluarga ke fasilitas kesehatan. Deteksi yang lebih cepat memberi peluang intervensi dilakukan sebelum kondisi menjadi lebih berat. Bagi keluarga, kunjungan rumah juga membuka ruang konsultasi yang lebih personal.
Monitoring dilakukan setiap bulan untuk melihat jumlah balita yang berhasil dijangkau dan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Laporan menjadi dasar evaluasi terhadap cakupan pelayanan, indikator penimbangan, dan kebutuhan tindak lanjut. Sistem ini membantu Puskesmas membedakan balita yang sekadar tidak hadir dengan balita yang memiliki faktor risiko kesehatan. Dengan data yang lebih rapi, pelayanan dapat diarahkan secara lebih tepat.
Jemput Bola Mendukung Pencegahan Stunting
Manfaat GURITA tidak hanya terlihat pada peningkatan angka kunjungan. Penimbangan dan pengukuran yang rutin membantu melihat pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu. Jika berat badan tidak naik atau tinggi badan menunjukkan pola yang mengkhawatirkan, petugas dapat melakukan penilaian lebih lanjut. Pemantauan inilah yang menjadi salah satu pintu awal pencegahan masalah gizi dan stunting.
Peningkatan cakupan imunisasi juga menjadi bagian penting dari pelayanan balita. Data proposal menunjukkan jumlah balita yang memperoleh imunisasi meningkat pada semester pertama 2026 dibandingkan semester sebelumnya. Kunjungan rumah membantu petugas menemukan anak yang belum lengkap status imunisasinya dan memberi informasi kepada keluarga mengenai jadwal pelayanan. Integrasi pemantauan tumbuh kembang dan imunisasi membuat pelayanan lebih menyeluruh.
Komunikasi dengan keluarga menjadi kekuatan lain dari pendekatan kunjungan rumah. Petugas dapat memahami alasan orang tua tidak datang ke Posyandu, menjelaskan pentingnya pemantauan rutin, dan memberikan saran yang sesuai kondisi keluarga. Interaksi langsung membantu membangun kepercayaan dan meningkatkan kesadaran untuk kembali memanfaatkan layanan kesehatan. Dengan demikian, kunjungan rumah bukan sekadar pengganti Posyandu, tetapi jembatan agar keluarga kembali terhubung dengan pelayanan rutin.
GURITA diarahkan menjadi sistem yang terus diperbaiki melalui pencatatan dan evaluasi berkala. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah rumah yang dikunjungi, tetapi dari meningkatnya cakupan pemantauan dan berkurangnya balita yang terlewat. Data yang konsisten akan membantu Puskesmas mengetahui wilayah dan kelompok keluarga yang membutuhkan perhatian lebih besar. Jika pelaksanaannya terjaga, GURITA dapat memperkuat layanan balita yang lebih proaktif, merata, dan responsif di wilayah kerja Puskesmas Serui Kota.