JABAR PALING BERKAH Jemput Bola Penanggulangan TBC, Kader Turun hingga Desa di Kabupaten Bekasi

Bekasi – UPTD Puskesmas Telaga Murni mengembangkan inovasi JABAR PALING BERKAH atau Jalan Bareng Penanggulangan Tuberkulosis Keliling Desa Bersama Kader Pilihan untuk mempercepat penanggulangan TBC di wilayah kerjanya. Program ini lahir ketika capaian pelayanan TBC masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan sumber daya, rendahnya skrining kontak erat, hingga pasien yang tidak mengambil obat sesuai jadwal. Pada 2023, jumlah terduga TBC yang diskrining tercatat 289 orang, sementara pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak erat belum berjalan. Melalui inovasi ini, pelayanan tidak hanya menunggu pasien datang ke puskesmas, tetapi bergerak langsung ke desa, posyandu, rumah pasien, dan lingkungan kerja.

JABAR PALING BERKAH memperkuat peran masyarakat melalui pembentukan kader TB pilihan yang disebut KANG NATU atau Kader Tanggap Eliminasi Tuberkulosis. Kader dibekali pelatihan mengenai dasar-dasar TBC, pelayanan TB paru, pemantauan pengobatan, investigasi kontak, dan penemuan kasus baru. Kader kemudian mendampingi petugas dalam kunjungan rumah, pelacakan pasien mangkir, edukasi keluarga, serta pemantauan kepatuhan minum obat. Pendekatan tersebut membuat penanggulangan TBC lebih dekat dengan masyarakat, terutama bagi pasien yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.

Salah satu kegiatan utama adalah Pojok Batuk Keliling yang menyasar posyandu di wilayah dengan jumlah kasus TBC tinggi. Melalui kegiatan ini, masyarakat dengan gejala dapat menjalani skrining secara lebih mudah, sementara anak yang memerlukan pemeriksaan dapat memperoleh Mantoux test dan pasien dewasa dapat diarahkan untuk pemeriksaan sampel dahak. Program juga menjalankan active case finding di lingkungan perusahaan dan tempat kerja sehingga skrining dapat dilakukan tanpa harus mengganggu aktivitas pekerja. Langkah jemput bola tersebut ditujukan untuk mempercepat penemuan kasus serta mengurangi risiko penularan yang tidak terdeteksi.

Pelayanan kepada pasien juga diperkuat melalui kunjungan rumah dan pendampingan pengobatan. Petugas bersama kader melakukan pemantauan konsumsi Obat Anti Tuberkulosis, pemeriksaan kondisi pasien, investigasi kontak serumah, dan penyampaian edukasi mengenai pencegahan penularan. Bagi pasien dengan kondisi ekonomi rendah, program turut menghadirkan paket gizi berupa bahan pangan yang diberikan secara berkala selama masa pengobatan melalui dukungan mitra. Dukungan gizi tersebut diarahkan untuk membantu menjaga kondisi tubuh pasien karena peningkatan berat badan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan selama proses penyembuhan.

Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan capaian program dari 2023 ke 2024. Jumlah terduga TBC yang diperiksa meningkat dari 289 menjadi 650 orang, sementara jumlah pasien yang diobati naik dari 112 menjadi 161 orang. Penemuan kasus TBC anak meningkat dari 22 menjadi 34 kasus, sedangkan penerima TPT bertambah dari tidak ada pada 2023 menjadi 31 orang pada 2024. Angka kesembuhan juga bergerak dari 80 persen menjadi 81 persen, memperlihatkan adanya kemajuan meskipun penguatan layanan masih perlu terus dilakukan.

JABAR PALING BERKAH tidak hanya berfokus pada pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga membangun dukungan sosial bagi pasien. Sejumlah kegiatan seperti kampanye TBC, senam sehat, lomba dokumentasi minum obat, lomba mewarnai dan terapi bermain bagi pasien anak, serta cerdas cermat kader digunakan untuk menjaga motivasi sekaligus meningkatkan literasi masyarakat. Program ini juga melibatkan lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, RT/RW, kader posyandu, klinik swasta, perusahaan, hingga lembaga sosial. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mengurangi stigma terhadap penderita TBC dan memperkuat dukungan keluarga selama enam bulan masa pengobatan.

Melalui JABAR PALING BERKAH, Puskesmas Telaga Murni berupaya membangun layanan TBC yang lebih terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan. Strategi kunjungan rumah, skrining keliling, active case finding, TPT, pendampingan obat, dan paket gizi memperluas akses pelayanan bagi masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkau puskesmas. Monitoring dilakukan melalui data Sistem Informasi Tuberkulosis serta evaluasi bersama lintas sektor untuk melihat perkembangan capaian program. Dengan keterlibatan kader dan jejaring masyarakat yang semakin kuat, inovasi ini diharapkan mendukung percepatan eliminasi TBC di Kabupaten Bekasi menuju target 2030.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *